Sawang Sinawang
Mungkin anda pernah membayangkan, bagaimana rasanya kalau jadi Aburizal Bakrie (Ical) dengan total kekayaan 5,4 miliar dolar, sekitar Rp. 50 triliun (Forbes, 2007). Dalam majalah Forbes tersebut menempatkan Aburizal Bakrie sebagai orang nomor satu terkaya di Indonesia. Gila memang. Bisnis keluarga Ical memang begitu menggurita, mulai dari usaha pertambangan, telekomunikasi, media massa, hingga pembangunan infrastruktur. Terbaru, keluarga Ical memenangkan tender pembangunan jalan tol lingkar luar Jakarta dan Trans-Jawa. Dan tidak menutup kemungkinan, masih banyak tender-tender yang dimenangkan oleh Aburizal Bakrie yang tidak terekspose oleh media.
Naun jauh di pelosok desa, sebut saja namanya Tukijan, hidup dalam suasana yang serba kekurangan. Jangankan punya televisi atau radio, untuk makan sehari-hari saja dia tidak bisa memenuhinya. Program BLT (Bantuan Langsung Tunai), dari pemerintah membuat beberapa kriteria untuk orang miskin. Antara lain orang tersebut hanya makan satu sampai dua kali sehari, tidak mampu bayar pengobatan di Puskesmas, atau untuk berobat, penghasilan kurang dari Rp.600.000 / bulan, tidak memiliki simpanan lebih dari 500.000. Agak menarik buat saya adalah point terakhir, tidak memiliki simpanan lebih dari lima ratus ribu rupiah. Kalau memang begitu, maka berapa banyak orang miskin di kota dan di desa. Saya tidak mempunyai data persis soal ini, tetapi secara kasat mata, orang-orang seperti Tukijan, yang mempunyai penghasilan kurang dari Rp. 600.000/bulan, yang tidak mempunyai simpanan lebih dari 500 ribu, pasti sangat banyak sekali.
Lantas apakah Aburizal Bakrie bahagia dengan segala kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki saat ini. Dan bagaimana dengan Tukijan, bahagiakah dia, walau hidup serba kekurangan? Susah untuk menjawabnya. Karena belum tentu Ical bahagia dengan apa yang dia miliki saat ini. Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan berapa banyak dia punya rumah, mobil, perhiasan, tabungan dan lain-lain. Kebahagiaan itu juga tidak bisa diukur dengan ketidakpunyaan. Siapa tahu Tukijan jauh lebih bahagia daripada Aburizal Bakrie. Kenapa, karena mungkin Tukijan bisa tidur lebih nyenyak dibandingkan Ical. Karena biasanya orang yang kaya itu tidurnya kurang nyenyak, karena banyak sekali yang dipikirkannya, antara lain bagaimana mengamankan harta yang sudah dimiliki, bagaimana memperbanyak kekayaan, bagaimana memenangkan tender ini, tender itu, dan lain sebagainya.
Sawang sinawang
Pepatah jawa ini memang tepat untuk mengambarkan bagaimana kita melihat orang. Kita mungkin mempunyai penilaian bahwa orang kaya itu pasti hidupnya bahagia, belum tentu. Atau malah sebaliknya, orang kaya melihat orang yang miskin (kekurangan) jauh lebih bahagia dalam mengarungi kehidupan ini. Karena dia merasa tidak perlu menjaga harta yang begitu banyak. Bersukur dengan apa yang saat ini kita punya menurut saya akan membuat bahagia itu ada pada kehidupan kita. Dan semuanya memang kembali kepada diri kita sendiri. Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagiaan itu adanya di dalam hati. Hanya Tuhan dan kita sendiri yang tahu.
di/pada April 15, 2009 di/pada 5:24 pm
Kalo kita bisa mensyukuri semuanya, pasti kita ngak nyawang orang lain.
di/pada April 25, 2009 di/pada 9:26 pm
alhamdulillah saya masih bisa ngenet
di/pada Mei 11, 2009 di/pada 5:34 pm
“Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagiaan itu adanya di dalam hati. Hanya Tuhan dan kita sendiri yang tahu”, Saya setuju itu..
di/pada Mei 14, 2009 di/pada 8:12 am
Nggih mas, saya pun berupaya untuk berpedoman demikian, materi banyak ataupun sedikit sama- sama titipan Allah.
Salam Kenal mas, saya juga orang Belitang. Blog Njenengan bagus, sugeng Rawuh di site saya
Njenengan masih tinggal di Belitang?
di/pada Mei 14, 2009 di/pada 10:20 am
Kertaningtyas:
Salam kenal kembali. Saya jug aorang belitang, tetapi saat ini saya lagi merantau di Jakarta. Sampean di mana?
di/pada Mei 14, 2009 di/pada 3:56 pm
Saya di Sukaraja BK 0, domisili saat ini di Palembang.
di/pada Mei 15, 2009 di/pada 12:31 am
Intinya memang harus bersyukur “jangan lihat ke atas tapi lihat ke bawah”
di/pada Mei 29, 2009 di/pada 2:39 pm
Benar, mas.
di/pada Juni 11, 2009 di/pada 8:29 am
Jangan sering-sering melihat keatas nanti malah kejeblos lho, lihat aja yang ada didepan kita………..kayaknya lebih tentreming ati.
di/pada Juli 4, 2009 di/pada 11:45 am
Ga sengaja nemu blog ini…ternyata punya Yoga…kalau ngebaca komen ini ga, liat blog saya di http://myandy.multiply.com atau face book (bariza ghiffari adfan)..ditunggu ga…