Nahda Arzita
Pada tanggal 9 November 2008, Minggu pagi, kurang lebih pukul 02.30, di Pekalongan-Jawa Tengah, lahir dengan selamat anak pertama kami. Dengan berat badan 3,1 Kg, dan panjang 49 cm, dengan jenis kelamin perempuan. Setelah berbulan-bulan masa tegang itu, akhirnya hari yang kami nanti telah tiba. Memang banyak orang yang was-was saat isterinya hamil (termasuk saya). Hal ini terjadi karena takut nanti ada apa-apa dengan si jabang bayi. Tetapi alhamdulillah, rasa takut yang hampir sembilan bulan saya rasakan tidak terjadi. Anak saya lahir dengan sehat wal afiat. Begitu juga dengan ibunya.
Belitangku Nan Subur
Lama juga tidak melihat Belitang, kampung kelahiranku. Rasa rindu selalu saja mengelayutiku. Walaupun baru dua tahun saya tidak pulang kampung, tetapi rasanya sudah berpuluh-puluh tahun. Saya hanya mendegar cerita tentang Belitang dari orang-orang kampung yang datang ke sini. Dari merekalah saya banyak mendapatkan informasi bahwa Belitang sekarang sudah jauh maju di bandingkan beberapa tahun yang lalu. Salah satunya karena kepemimpinan bupati yang baru, Bapak H. Herman Deru, SH, MM. Mereka bilang, “kamu akan kaget kalau pulang ke Belitang, apalagi melihat Gumawang (Ibu Kota Belitang) yang semakin maju. Diteruskan membacanya
Ngudi Tentreming Ati
Hembusan angin yang sejuk, suasana yang tentram dan damai. Pasti menjadi dambaan setiap orang yang hidup di kota-kota besar. Apalagi hidup di suasana dan hiruk pikuknya Ibu Kota Jakarta, pasti suasana seperti itu sangat di dambakan. Tidaklah mengherankan kalau datang libur panjang, warga kota yang mempunyai uang cukup, pasti melakukan perjalanan luar kota atau rekreasi. Tujuannya hanya satu mencari suasan baru dan ketenteraman hati. Bicara tentang ketenteraman hati, dan seperti tagline dari blog ini, ngudi tentreming ati (mencari ketentraman hati). Memanglah sangat layak untuk dicari. Untuk apa punya mobil lebih dari satu, rumah mewah di mana-mana akan tetapi kalau hatinya tidak tentram pasti tidaklah nyaman. Cobalah tanya kepada orang kaya, yang hatinya selalu diselumuti gundah, selalu resah, apakah hidupnya tenang? Pasti jawabannya Tidak. Namun jangan coba pertanyaan itu dilemparkan kepada saya. Karena saya belum merasakan itu (kaya), he he he. (lagi…)
Akhirnya, Nulis Kembali
Ah!, akhirnya kesampaian juga untuk menulis kembali. Setelah sekian lama, hampir tiga bulan tidak pernah menulis kembali, namun hari ini terlaksana juga. Bukan karena apa, terus terang keinginan untuk menulis selalu ada, setiap kali ada peristiwa ingin sekali menulis dan di posting di blog. Tetapi entah mengapa keinginan tersebut hanya sebatas keinginan saja. Memang, sepertinya ada sesuatu yang agak kurang, kalau melihat sesuatu yang saya anggap beda, tidak di tuliskan. Oleh sebab itu, mulai sekarang Insa Allah saya akan kembali menulis kembali. (lagi…)
Dalam Sebuah Perjalanan
Akhir bulan Oktober kemarin saya melakukan perjalanan ke Batang, Pekalongan Jawa Tengah. Berangkat dari terminal Pulogadung kurang lebih pukul 09.00 WIB. Saat itu memang masih dalam suasana lebaran, namun tarif yang berlaku tarif normal. Kalau pada saat lebaran tarif Jakarta-Pekalongan AC sebesar Rp. 90.000,-, tapi kemarin pada saat saya berangkat hanya Rp. 45.000,-. Harga yang masih bisa terjangkau oleh penumpang yang berkantong tipis seperti saya. Tidak seperti tarif bis ke Belitang Oku Timur, tanah kelahiranku. Pada saat hari biasa saja sudah mencapai Rp. 90.000,- apalagi pada saat lebaran, bisa naik 100%-nya atau bahkan lebih. (lagi…)
Sisi Lain Tugas Ke Anyer, Banten
Entah ini kali yang ke berapa saya tugas keluar kota. Tapi bukan keluar kota untuk tugas yang berat. Karena menurut saya ini hanya tugas yang ringan saja. Yang saya lakukan di sana hanyalah menjadi panitia dalam rangka consultative meeting pengambilalihan bisnis TNI oleh pemerintah. Sebuah acara konsultasi, yang idealnya acara ini di hadiri oleh bapak-bapak dari Komisi I yang membidangi masalah pertahanan. Namun sayang, mereka tidak bisa hadir, karena jadwal yang padat. Acara yang berlangsung dari tanggal 28-30 Mei tersebut di hadiri oleh aktivis NGO/LSM yang konsen ke soal-soal militer dan juga beberapa peserta dari Mabes TNI dan Dephan. Saya tidak akan cerita lebih lanjut soal substansi acara yang membahas bisnis TNI tersebut. Karena itu memang bukan bidang saya. Apalagi soal bisnis TNI sudah masuk ke ranah politik. Namun lain kali saya akan mencoba untuk membuat tulisan tersendiri mengenai bisnis yang dilakukan oleh TNI. Dari Jakarta, dibutuhkan waktu
Di Cubit, “Sakit” Memang
“Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan doa untuk kesembuhan saya. Semoga Tuhan Yang Maha kuasa membalas segala amal kebaikan teman-teman semua, Amin Ya Robal Alamin.”
Alhamdulillah, akhirnya setelah hampir kurang lebih dua minggu berbaring di tempat tidur dan melakukan segala aktifitas dengan tangan kiri. Kini kesehatan saya pelan-pelan sudah berangsur membaik, tangan kanan saya sekarang sudah bisa di gerakkan pelan-pelan (bahkan sudah bisa di gunakan untuk mengetik). Untuk informasi, setelah dirongent ternyata hasilnya tidak membuat saya stres. Karena sebelumnya saya di indikasi mengalami patah tangan kanan. Sukur, indikasi itu ternyata salah. Namun sebenarnya bukan patah, kalau retak memang benar. Semua ini terjadi karena kesalahan saya. Andai malam itu saya tidak melakukan hal bodoh tersebut. Kejadian yang sudah terjadi bagai kereta yang akan berjalan, sekali jalan maka tidak akan perah kembali atau berhenti. Seperti kita kalau ketinggalan kereta, tidak ada dalilnya tuh kereta berhenti hanya sekedar untuk menunggu kita. Kalau sudah jalan ya sudah dia akan tetap jalan. Kalau nggak Mau dicubit, lanjutin bacanya
Mohon doa kesembuhan
Sedih rasanya, sampai dengan minggu kedua saya masih harus berbaring di tempat tidur dan tidak bisa kemana-mana. Saya tidak bisa kuliah, kerja dan tidak bisa melakukan hobi saya (nulis di blog). Malam minggu kemarin (6-1-2007) saya mendapat musibah, yakni jatuh dari motor. Ini kali yang ketiga saya jatuh dari motor. Namun jatuh yang ketiga ini, memaksa saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tangan kanan saya di indikasi “patah” (semoga ini tidak benar). Praktis sudah dua minggu ini segala aktifitas saya: minum, makan, dll, harus mengunakan tangan kiri. Tulisan ini saya buat menggunakan tangan kiri, yang kemudian minta tolong temen yang saya percaya untuk posting di blog ini. Abiskan baca sisa postingan
Nonton bola : hobi saya
Kegilaan saya pada bola sebenarnya sudah sejak lama. Sudah sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat itu saya melihat pertandingan worldcup 1998, namun untuk liga-liganya saya belum pernah menonton. Karena di kampung, apalagi di rumah belum punya televisi sendiri. Jadi kalau nonton terpaksa ngungsi dan nginep di rumah teman.
Kegilaan saya terhadap bola berlanjut sampai dengan sekarang. Walau saat ini saya jauh dari tanah kelahiran, merantau ke Jakarta. Tetapi saya hanya suka melihat bola untuk Liga Inggris, Liga Spanyol, dan untuk lainnya saya tidak terlalu suka. Dan mohon maaf untuk Liga Indonesia tidak masuk dalam daftar liga yang saya sukai. Sebenarnya saya suka dengan liga di tanah air, akan tetapi sepertinya dari hari kehari kalau saya perhatikan tidak ada kemajuan yang berarti dalam persepakbolaan di tanah air. Di SEA Games aja Indonesia harus terpuruk dan kalah banyak dengan negara-negara yang sebenarnya mempunyai sejarah bola yang tidak terlalu bagus. Oleh sebab itu, mohon maaf kalau saya tidak suka dengan liga di tanah air.
My Dream, apa maknanya?
Tidak seperti biasanya dalam tidur-tidur malamku mimpi yang aneh-aneh. Buat saya mimpi semalam merupakan mimpi yang agak aneh. Kenapa, karena saya semalam bermimpi dan anehnya setelah terjaga mimpi tersebut berlanjut (seperti bersambung). Dalam mimpi semalam saya terjaga sebanyak tiga kali. Mimpi yang aneh, yang sebelumnya saya tidak pernah mengalaminya.
Pertama, saya mimpi seolah-olah saya tergabung dalam satu kelompok keagamaan, entah apa namanya. Kelompok tersebut berpakaian serba hitam, termasuk saya. Dalam sebuah perjalanan, saya berhenti di sebuah perkampungan. Kemudian saya dikenalkan dengan ketua suatu kelompok. Dan saya diberi beberapa wejangan atau masukan dan akhirnya saya masuk dalam kelompok tersebut (ini awal saya masuk dan bergabung dengan kelompok ini, sebelum ketemu dengam kelompok ini, saya seaakan-akan orang yang bingung, cemas, dll). Tetapi ada keraguan di dalam hati saya untuk ikut dan bergabung dengan kelompok tersebut. Karena saya tidak mau terlibat dengan kelompok-kelompok yang nantinya ke depan akan membuat saya sengsara. Di saat keraguan itu mengelayuti pikiranku, terbersit keinginan untuk kembali ke tempat asal saya. Namun ketika saya tanya alamat asal saya, seolah-olah tempat tinggal saya tersebut jauh sekali. Yang pada akhirnya membuat saya mengurungkan diri untuk pulang dan keluar dari kelompok tersebut. Suatu hari rombongan kami
Puasa di Masa Kecil
Marhaban ya Ramadhan
Selamat datang bulan puasa,
bulan yang penuh rahmat,
bulan yang di dalamnya penuh dengan ampunan.
Jadi ingat masa kecil saya di kampung pada saat menjelang puasa. Saya bersama teman-teman kalau bahasa di kampung itu ”berburu makanan”. Sehari sebelum puasa kami pergi ke kebun, tujuannya yakni mencari makanan yang bisa langsung di makan. Alasannya sederhana, besok kita sudah tidak boleh makan di waktu siang lagi, jadi hari ini merupakan hari terakhir kita makan di waktu siang. Pergilah kami ke kebun, mencari makanan seperti jambu, degan (kelapa muda) pisang, mangga, nanas, dll. Yang pasti apapun yang kami temui kami ambil dan makan. Tidak pernah berpikir itu milik siapa, yang namanya di kebun pasti akan kami ambil. Toh kami ngambilnya juga tidak banyak-banyak, seperlunya saja. Kalau ada yang punya kami minta, tetapi kalau yang punya tidak ada kami langsung ambil. Dan kalau ketahuan ya kami akan lari (dasar anak-anak).
Hari-hari puasa telah tiba, saya puasa seperti kebanyakan orang. Tetapi karena saya masih kecil dan mungkin belum terlalu kuat untuk puasa. Kalau sudah sore saya biasanya mandi di kali atau sungai, sungai Komering namanya. Oleh sebab itu daerah kabupaten kami di namakan Ogan Komering Ulu, karena itu diambil dari nama sugai yang ada di daerah kami. Di saat menyelam saya selalu minum air sungai, tidak banyak memang, akan tetapi cukup untuk menghilangkan dahaga. Dan kebiasaan buruk ini selalu (tetapi tidak setiap hari) saya lakukan di saat mandi di sungai. Dan anehnya orang tua atau orang lain tidak ada yang tau. Untuk menutupinya setelah mandi saya selalu pura-pura tetap lemas. Padalah mereka tidak tahu kalau saya sudah minum air sungai. Kalau di tanya ”kamu masih puasa? Pasti akan saya jawab” iya atau masih”. Lets go, lanjut