Seandainya Gie Nge-Blogs

25 Agu

Satu malam sebuah televisi swasta di tanah air menayangkan film Gie dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus yang ke 61. Karena jujur saja, semenjak film itu dirilis saya sama sekali belum pernah menonton. Maklum orang yang dengan keuangan cekak seperti saya susah memang untuk menonton film-film baru. Padahal pengen sekali saya menonton film ini, bukan karena pemerannya Nicolas Saputra, akan tetapi saya memang tertarik dengan keberanian seorang pemuda yang bernama Gie.

Sebelum melihat film itu saya sama sekali tidak tahu persis seperti apa sebenarnya sosok Soe Hok Gie. Sebelumnya yang saya tahu tentang dia adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang penuh keberanian, anak muda yang suka naik gunung, anak muda yang pandai menulis, mengkritik tentang rezim yang sedang memimpin. Saya tidak akan membahas isi dari film itu. Akan tetapi saya hanya akan menyoroti tentang kemampuan Gie dalam menulis. Anak muda yang satu ini kritis sekali terhadap perkembangan politik di Jakarta atau secara umum Indonesia. Bahkan sangking kritisnya tulisan-tulisan Gie ”hampir” tidak boleh terbitkan, karena saat itu sedang bergejolak isu PKI. Warga masyarakat yang dianggap ada kaitannya dengan PKI ditangkap, di tahan dan akhirnya dibunuh tanpa sebab. Penangkapan itu bergejolak setelah terjadinya peristiwa apa yang dikenal dengan G 30 S/PKI.

Andai Gie ada di jaman sekarang, mungkin akan beda. Kalau dulu mungkin kebebasan itu masih dikengkang, walaupun sekarang kebebasan itu juga tidak sepenuhnya bebas. Tetapi paling tidak sekarang banyak media untuk mengekspresikan diri. Kalau dulu boleh saja tulisan-tulisan Gie tidak dimuat oleh media massa. Akan tetapi kalau sekarang banyak tempat untuk menuliskan opini-opini tersebut. Salah satunya adalah blog. Andai Soe Hok Gie nge-blogs. Tetapi saya sempet khawatir juga kalau Gie menggunakan blogs untuk mengekspresikan opini atau kritikan-kritikannya. Masih ingat sosok Herman Saksono, anak muda yang tinggal di Yogyakarta. Saat itu dengan sedikit ”kejahilan” dan kreativitas yang dimiliki, dia merubah foto para pejabat negara dengan seorang penyanyi papan atas dalam adegan yang agak vulgar. Terang saja saat itu beberapa pejabat yang kalang kabut dibuatnya. Sampa-sampai SBY mengeluarkan pernyataannya tentang gambar yang ada di blog tersebut. Yang intinya meminta supaya gambar-gambar tersebut tidak ditayangkan dan itu bukan merupakan kebenaran.

Heboh, blogs Herman Saksono yang sebelumnya hanya di kunjungi orang mungkin kurang dari 10 pengunjung per hari. Dengan adanya kejadian tersebut pengunjungnya menjadi membumbung sampai ratusan. Aneh, begitulah memang di Indonesia, ada sedikit aneh langsung saja jadi tenar. Masih ingat Mbah Marijan, hanya karena dia tidak mau turun gunung saat diperkirakan gunung merapi mau meletus, Mbah Marijan jadi terkenal. Bahkan saat ini beliau sudah membintangi minuman berenergi, ”dua lelaki pemberani”, begitu slogannya.

Terkadang terbesit di pikiran saya untuk jadi orang yang aneh di negeri ini, kenapa? Supaya saya jadi orang terkenal seperti mbah Marijan. Masih ingat sosok Sumanto, karena keganjilan yang dia miliki, kini Sumanto jadi terkenal. Tetapi akhirnya saya sadar bahwa saya tidak punya sesuatu yang perlu saya bikin aneh. Biarlah keanehan saya hanyalah menulis apa yang ada di benak saya, tentang apapun itu, untuk kemudian saya postingkan ke blog ini.

Kembali ke topik kita soal Gie, apa jadinya kalau Gie hidup di jaman sekarang, pasti dia langsung diangkat jadi menteri, penasehat kepresidenan, juru bicara atau apalah. Karena ide-ide dia tentang demokrasi, tentang nasionalisme dia muat di blog dan dibaca bebas oleh orang lain. Yang pasti dengan kemampuan dia mengkritisi akan cepat melambungkan namanya. Tetapi saya tidak benar-benar tahu apa yang terjadi seandainya Gie hidup di jaman serba teknologi seperti ini. Memang jaman selalu beda, dulu, kini dan yang akan datang tidak akan pernah sama.

3 Tanggapan to “Seandainya Gie Nge-Blogs”

  1. say Agustus 28, 2006 pada 12:41 am #

    hei… maaf aku coment disini. bis gak da SB nya seh…

    Lam kenal juga ya.. n tengkiu lo sudah mau mapir. btw mang blom pernah kejogja sama sekali pun..? makanya ke jogja dunk… asyik lo dijamin gak bakalan nyesel kok..

  2. prayogo Agustus 28, 2006 pada 6:07 am #

    Ok, tq….
    Masalah SB nanti akan saya pertimbangakan, akan saya pasang atau tidak

  3. rna-chayank September 16, 2006 pada 2:57 pm #

    Semua orang berhak memiliki kebebasan berbicara, yang membedakan hanyalah apa yang akan disampaikan dan kondisi/ keadaanx pada saat itu. Kalo dulu Gie ngga memiliki kebebasan berbicara dikarnakan Gie menyampaikan sesuatu yang sifatx kontroversi dan berada pada kondisi yang tidak kondusif sehingga kebebasan berbicarax dikekang. Sebalikx dizaman reformasi ini banyak orang justru menyalahgunakan kebebasan berbicara mereka dan bahkan sampai melakukan tindakan anarkis. So…..gunakan sebaik mungkin kebebasan berkehendak yang kita miliki dengan baik dan benar selagi zaman kita memungkinkan hal itu!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: