Puasa di Masa Kecil

23 Sep

Marhaban ya Ramadhan
Selamat datang bulan puasa,
bulan yang penuh rahmat,
bulan yang di dalamnya penuh dengan ampunan.

Jadi ingat masa kecil saya di kampung pada saat menjelang puasa. Saya bersama teman-teman kalau bahasa di kampung itu ”berburu makanan”. Sehari sebelum puasa kami pergi ke kebun, tujuannya yakni mencari makanan yang bisa langsung di makan. Alasannya sederhana, besok kita sudah tidak boleh makan di waktu siang lagi, jadi hari ini merupakan hari terakhir kita makan di waktu siang. Pergilah kami ke kebun, mencari makanan seperti jambu, degan (kelapa muda) pisang, mangga, nanas, dll. Yang pasti apapun yang kami temui kami ambil dan makan. Tidak pernah berpikir itu milik siapa, yang namanya di kebun pasti akan kami ambil. Toh kami ngambilnya juga tidak banyak-banyak, seperlunya saja. Kalau ada yang punya kami minta, tetapi kalau yang punya tidak ada kami langsung ambil. Dan kalau ketahuan ya kami akan lari (dasar anak-anak).

Hari-hari puasa telah tiba, saya puasa seperti kebanyakan orang. Tetapi karena saya masih kecil dan mungkin belum terlalu kuat untuk puasa. Kalau sudah sore saya biasanya mandi di kali atau sungai, sungai Komering namanya. Oleh sebab itu daerah kabupaten kami di namakan Ogan Komering Ulu, karena itu diambil dari nama sugai yang ada di daerah kami. Di saat menyelam saya selalu minum air sungai, tidak banyak memang, akan tetapi cukup untuk menghilangkan dahaga. Dan kebiasaan buruk ini selalu (tetapi tidak setiap hari) saya lakukan di saat mandi di sungai. Dan anehnya orang tua atau orang lain tidak ada yang tau. Untuk menutupinya setelah mandi saya selalu pura-pura tetap lemas. Padalah mereka tidak tahu kalau saya sudah minum air sungai. Kalau di tanya ”kamu masih puasa? Pasti akan saya jawab” iya atau masih”.

Tidak hanya itu, kebiasaan buruk yang lain adalah selalu mencuri makanan pada waktu siang hari. Di saat rumah tidak ada penghuninya, di saat itulah saya melancarkan aksi saya. Yakni mengambil makanan yang ada di atas meja makan atau lemari. Dan trik yang saya pakai adalah mengambil sedikit-sedikit setiap makanan yang ada. Tujuannya jelas supaya tidak ketahuan oleh ibu atau oleh se isi rumah. Kalau ditanya siapa yang mengambil makanan, pasti saya jawab tidak tahu, lha wong saya puasa. Astapirllah aladdin, saya lupa bahwa ada zat yang Maha Mengetahui, yakni Allah S.W.T. Saya lupa bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini Allah S.W.T pasti tau, semua itu pasti terekam dan di catat, Astapirllah.

Satu lagi yang membuat saya selalu teringat waktu puasa di kampung adalah menjelang beduk magrib. Dulu di kampung televisi masih sangat jarang, satu kampung hanya beberapa orang saja yang memiliki. Itupun televisinya belum bewarna, masih televisi koran atau black and white. Untuk menunggu beduk magrib, saya dan kedua kakak saya menonton TV di tetanga yang jaraknya hamper 250 M dari rumah. Dan di saat beduk magrib tiba, kami semua lari menuju rumah, lari sekencang-kencangnya. FATAL, akibat lari dengan kencangnya jadi tambah haus tengorokan. Sampai di rumah minum yang banyak dan setelah itu saya sudah tidak bisa makan apa-apa lagi. Karena perut sudah penuh dengan air. Makanan yang tadi saya simpan dan saya rencanakan untuk di makan jadi di anggurin, karena perut belum bisa di isi lagi, andai tadi tidak lari pasti semua makanan itu akan saya lahap.

Itu kurang lebih 20 tahun yang lalu, masa-masa puasa waktu kecil di kampung. Kini semuanya sudah jauh berubah. Yang pasti kebiasan-kebiasaan buruk di atas sudah tidak pernah saya lakukan lagi. Mencari makanan sehari sebelum puasa, mandi sambil minum dan mencuri makanan di waktu siang hari. Kini di rantau semuanya jelas sangat berbeda. Sekarang puasa benar-benar saya jalankan, saya tidak mau membohongi diri saya sendiri. Buat saya sebuah anugerah dan kenikmatan tersendiri karena masih dipertemukan dengan Ramadhan 1427 H tahun ini. Saya berharap puasa bulan ini akan lebih bermakna daripada tahun yang lalu. Semoga selalu ada peningkatan, baik itu iman ataupun ketaqwaan saya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, AMIN. Marhaban ya Ramadhan.

2 Tanggapan to “Puasa di Masa Kecil”

  1. sihot Oktober 17, 2006 pada 4:14 am #

    Met puasa ya wong belitang. =:)

Trackbacks/Pingbacks

  1. Jalur Cepat Ke Yang Maha Kuasa « PRAYOGO - thinking is freedom - September 18, 2007

    […] saya bermain dengan blog, saya juga sudah pernah menuliskan sebuah postingan yang berjudul Puasa di Masa Kecil. Itu artinya kurang lebih sudah satu tahun saya nge-blog. Kalau di postingan saya tahun dulu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: