Bisa sembuhkah bangsa kita?

6 Des

Tulisan ini saya buat di dasarkan atas keperihatinan saya dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi di negeri ini, Indonesia. Terus terang saya sangat miris mengikuti berita, baik itu melalui media cetak atau elektronik. Bangsa ini seolah-olah tidak pernah berhenti di landa bencana. Baik itu bencana alam ataupun bencana moral, bencana moral yang diawali dari masuknya peradaban dari negeri/negara lain.

Keperihatinan saya di mulai dari pendidikan kita, pendidikan dasar atau SD. Maraknya korban smakdown yang di tayangkan oleh salah satu televisi swasta di tanah air. Saya tidak habis pikir kenapa anak-anak (usia SD) suka sekali menonton tayangan tersebut. Jelas-jelas bahwa itu bohongan dan bukan sunguhan. Apalagi acara tersebut ditayangkan pada malam hari. Bagaimana sebenarnya kontrol orang tua terhadap tontonan anak-anaknya. Kalau memang orang tua punya jawaban ”saya/kami sudah mengontrol jadwal menonton mereka, tetapi mereka masih saja bisa menonton tayangan tersebut”. Memang banyak cara untuk menonton acara tersebut, bisa dari VCD atau Playstation. Namun sebenarnya cara ini masih bisa di sikapi, caranya yakni orang tua harus bisa mengontrol uang jajan anaknya. Selain itu orang tua juga harus bisa mengontrol jam main anak-anaknya. Memang orang tua menjadi kunci utama di sini. Di samping itu memang harus ada kontrol dari pemerintah, lembaga-lembaga terkait tentang acara/jadwal penayangan dari televisi-televisi yang ada di tanah air.

Setelah berajak SMP/SMA ini masalahnya menjadi lebih meningkat, kini beranjak ke ranah moral. Banyak anak-anak sekolah (perempuan) yang menjual dirinya entah untuk alasan kebutuhan ekonomi atau hanya untuk ”just fun”. Lagi-lagi di sini saya harus mengelus dada (prihatin). Menurut Dra. Sudarini (Sosiolog) 75 % prostitusi dilakukan oleh anak-anak (ABG). Banyak anak sekolah yang ’nyambi’ menjadi pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Saya tidak tahu persis akan keakuratan data tersebut. Namun saya cenderung setuju dengan data di atas. Melihat tingkah laku dan gerak-gerik anak-anak SMA sekarang. Dengan gaya, dandanan, aksesoris (Handphone, dll) yang menurut saya itu tidak pantas dikenakan atau di pakai oleh anak-anak yang masih duduk di bangka sekolah menengah atas. Baik, kalau memang orang tua si anak itu termasuk orang kaya, namun bagaimana kalau orang tua mereka yang berada di ekonomi kelas menengah atau bahkan bawah. Untuk anak laki-lakinya ada yang sudah menjadi pengedar ganja, pemakai, bahkan ada yang sudah mencoba-coba bahkan sudah sungguhan menjadi germo untuk teman-teman sekolahnya.

Selanjutnya meningkat di bangku kuliah, inipun menurut data bahwa tingkat prostitusi tak kalah maraknya. Banyak mahasiswi yang dengan sengaja juga melacurkan dirinya. Lagi-lagi dengan alasan entah kebutuhan ekonomi atau hanya just fun. Dan untuk mahasiswanya, juga tidak mau kalah hebatnya, ada yang menjadi gigolo, pengedar ganja, dll. Jujur, untuk kuliah di jaman sekarang memang di butuhkan dana yang tidak sedikit. Kuliah di perguruan tinggi negeri juga membutuhkan dana yang besar, apalagi kuliah di perguruan-perguruan swasta. Bisa di butuhkan uang 50 sampai 100 juta rupiah atau bahkan lebih, inipun baru tahap awal masuk perkuliahan. Akan kelihatan sekali kalau mahasiswa/i memang punya niatan untuk kuliah. Mereka berpikir: kuliah mahal, oleh sebab itu kuliah harus benar-benar. Tapi di sini tidak sedikit mahasiswa/i yang sudah tahu kuliah mahal, namun kuliah dengan asal-asalan. Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa mencari uang itu sulit. Ataukah memang mereka gampang mencari uang, sehingga kuliahpun mereka asal-asalan. Kalaupun gampang, mungkin atau pastinya mereka akan mendapatkan uang tersebut dengan cara yang tidak biasa. Misal melacurkan diri, menjadi simpanan pengusaha, simpanan pejabat, gigolo dan lain-lain. Mungkin buat mereka menjadi pelacur atau wanita simpanan tidak apa-apa, yang penting segala kebutuhan mereka tercukupi, yang penting bisa hidup enak, segalanya ada: mobil, rumah, handphone bagus, baju bagus, dll. Mungkin mereka berpikiran masalah moral dan dosa itu masalah lain.

Berangkat dari moral anak SD yang sudah tidak benar, ke SMP, SMU dan kuliah. Maka tidak salah dan jangan heran kalau nanti mereka setelah menduduki jabatan di negeri ini, menjadi pemimpin, maka tingkah lakunya juga tidak akan benar. Banyak pejabat yang korupsi (karena punya banyak wanita simpanan). Banyak pejabat yang berantem (karena korban dari tayangan smakdown mungkin) dan masih banyak lagi. Seolah-olah semua sisi bangsa ini sudah mengalami kemunduran dan kerusakan. Bangsa ini sudah benar-benar sakit, tidak hanya moral yang rusak. Oleh sebab itu jangan heran kalau Yang Maha Kuasa juga ”bosan” dengan tingkah laku anak negeri ini. Bencana di sana sini, tsunami di Aceh, gempa di Jogja, semburan lumpur panas di Porong, Sidoharjo, dan bencana-bencana yang lain.

Sepertinya bangsa ini memang harus tobat nasuha, tobat yang sebenar-benarnya. Tapi siapa yang akan memimpin bangsa ini untuk bertobat kalau para pemuka agama lebih suka menjadi ustad atau kiyai seleberitis. Para ustad lebih suka dijadikan bahan omongan di acara-acara infotaiment di bandingkan harus memberikan ceramah-ceramah di masjid, mushola dan lain-lain. Lalu siapa? Pejabat negara, orang-orang di pemerintahan, semuanya juga sudah tidak peduli dengan sekitarnya. Mereka masing-masing sibuk dengan urusan kantong dan perutnya sendiri-sendiri. Sampai kapankah bangsa ini harus mengalami sakit, sakit yang luar dalam.

2 Tanggapan to “Bisa sembuhkah bangsa kita?”

  1. neeya Desember 7, 2006 pada 8:30 pm #

    aku gak yakin juga sih banga ini bisa sembuh. Bisa aja sih, tapi super luamaaaa. Harus dimulai dari diri sendiri dan punya cukup kuasa untuk mengajarkan pada orang lain.

    Duh.. tampaknya aku harus introspeksi diri lagi

  2. prayogo Desember 20, 2006 pada 9:57 am #

    neeya*** Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan bangsa ini. Bangsa ini memang sebenarnya sudah benar-benar sakit parah. Di semua lini sudah pada sakit, pejabat, pegawai biasa, pegawai yang tidak biasa. Semuanya sudah pada sakit: sakit kalau tidak korupsi, sakit kalau tidak bohong, sakit kalau tidak……

    Jadi berapa tahun lagi bangsa ini akan sembuh….

    Saya orang yang sangat pesimistis akan kesembuhan bangsa ini…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: