Back to Nature

13 Feb

Tidak bisa di pungkiri, dan kita semua memang mengakui bahwa alam yang kita tinggali yang konon bernama Indonesia ini menyimpan begitu banyak pesona. Baik pesona yang ada di darat atau di lautan. Begitu banyak kekayaan yang ada di tanah air ini. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan anugerah yang tak terhingga dari Yang Maha Kuasa tersebut. Banyak sekali resep dari obat-obatan yang di jual di pasar, baik pasar domestik atau internasional menggunakan bahan baku dari negeri tercinta kita ini. Jujur saja, untuk urusan sakit-sakitan kalau kita mau kembali ke alam banyak sekali di sediakan obat-obatanya.

Namun sayang manusia di jaman modern seperti sekarang lebih suka sesuatu yang serba instan dan praktis atau tidak mau repot. Buat kita yang masih suka dengan obat-obatan yang sifatnya alami dan tanpa campuran bahan-bahan kimia, silahkan unduh file ini. Tidak ada salahnya untuk kita back to nature. Apalagi sekarang semakin banyak di temukan obat-obatan yang di jual di pasar yang ternyata mengandung banyak bahan kimia yang notabenya bukan menyembuhkan kita dari sakit, tetapi sebaliknya, menimbulkan efek yang tidak bagus. Namun semuanya kembali kepada diri kita sendiri, mau instan sembuh namun setelah itu ada efek sampingnya. Atau mau repot sedikit (sebenarnya tidak juga sih) namun setelah itu efek negatifnya cenderung tidak ada.

File di atas saya kumpulkan dari berbagai sumber yang saya ambil di internet. Terus terang belum semuanya saya peraktekkan. Namun tidak ada salahnya kalau kita mau mencobanya. Bagaimana mau tahu kasiatnya kalau kita sendiri belum mencobanya. Terkadang salah satu kesalahan yang membuat kita tidak maju atau berubah adalah tidak mau mencoba hal-hal yang sifatnya baru. Oleh sebab itu tidak ada salahnya untuk mempraktekkan resep-resep yang ada di file tersebut. Terkakhir saran saya, buat yang ragu jangan sekali-kali mencoba dan mengunduh file di atas. Tetapi buat yang mau, monggo file tersebut di ambil.

Nb: buat Cakmoki dan Dani Iswara, mohon jika tips-tips di atas salah atau tidak tepat, agar kiranya dikoreksi, karena Cakmoki dan Dani Iswara khan dokter.

Tetap semangat, dan terus berjuang.

15 Tanggapan to “Back to Nature”

  1. senyumsehat Februari 14, 2007 pada 7:19 am #

    Aku juga setuju back to nature, obat2 kimia pasti ada side efect, spt pisau bermata dua, tp dosis therapy ya kita ambil manfaatnya. Terimakasih file-nya pak.

  2. wahyu Februari 14, 2007 pada 12:12 pm #

    aku nyari obat biar anak-anak cepet pinter ada nga yak…. halah ngak nyambung
    makasih filenya om, sekalian rencana buat kebun obat di sekolah

  3. prayogo Februari 14, 2007 pada 1:42 pm #

    senyumsehat***: Sama-sama bu dokter, semoga tips2 tersebut ada manfaatnya. Terus terang saya hanya ingin sharing ilmu atau apa yang saya punya. Asal jangan minta isteri ama duit saya aja, he he he.

    Wahyu***: Ada pak, katanya apel bisa bikin kita pinter (katanya). Sukses untuk kebunnya.

  4. helgeduelbek Februari 14, 2007 pada 6:51 pm #

    Katanya yang alami juga berisiko dan tetep memiliki efek samping yah? Apa bener bahwa obat terbaik itu ada dalam tubuh sendiri (probiotik)?

  5. Lesca Februari 14, 2007 pada 8:47 pm #

    Setuju Mas. Saya juga masih selalu pake resep “brambang balur” buat urusan masuk anginnya anak2😀 Murah, praktis dan relatif ga beresiko. Kecuali mungkin baunya aja yang bikin anak jadi sedikit mirip oseng2 tempe ;-p

  6. kenzt Februari 14, 2007 pada 11:10 pm #

    *terbayang iklan: buat anak kok pake coba-coba?*

    kalo sekedar mengunduh tapi bukan untuk diri sendiri bagaimana? namun buat dicoba buat keponakan yang masih kecil misalnya? Terus terang saya sih belum coba mengunduhnya, takut sia-sia…

    BTW, katanya salah satu alasan kenapa manusia semakin lama berusaha nyari yang praktis tidak lain karena:
    1. “Waktu adalah uang”;
    2. “Hidup terlalu singkat untuk dilalui dengan pengalaman diri sendiri”;
    3. dan mungkin masih banyak kata-kata seperti bijak yang lainnya…

  7. prayogo Februari 15, 2007 pada 8:34 am #

    @helgeduelbek: Mungkin tetap ada mas, tetapi kecil. Probiotik? (wah ini hanrus nanya ke dokter-2 yang ada di blog ini nih, cakmoki, senyumsehat dan Dani Iswara).

    @Lesca: He he he, bau dikit nggak apa2, yang penting kasiatnya, bener khan mba?

    @kenzt: Nggak apa-2 mas, unduh dulu dan simpen, siapa tau lain kali di bisa digunakan.

  8. micokelana Februari 15, 2007 pada 10:34 am #

    Kadang emang butuh kok. Contohnya waktu saya pulang kampung, nenek saya memberikan air rebusan daun jambu untuk mengurangi diare yang saya alami. Alhasil say a kepaitan minum air tersebut, tapi cukup manjur menghilangkan diare yg saya alami.
    Bukannya obtan-obatan yang beredar dipasaran itu terdapat campuran dari alam juga kan, meskipun ada zat kimianya.

  9. venus Februari 15, 2007 pada 3:30 pm #

    ah iya. kita kembali ke alam aja. eh apaan tadi?😀

  10. prayogo Februari 16, 2007 pada 6:40 am #

    @micokelana: Nah, betul kan Mic, bahwa alam banyak menyimpang begitu pesona. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

    @venus: #!!@#$$%

  11. cakmoki Februari 16, 2007 pada 11:20 am #

    Kami pernah mengembangkan ini di masyarakat th 1994, tak diduga dinilai dan mendapat juara I propinsi kaltim. Tak diduga pula nambah income masyarakat.
    Sayang, area tersebut kebakar habis tahun 2000, yang tersisa hanya di halaman rumah.
    WHO memberikan kesempatan luas untuk mengembangkannya sebagai salah satu pilihan pemeliharaan tubuh yang bersifat konstruktif agar tidak mudah terserang penyakit.
    Bahkan ada seorang wanita Ir dari IPB mendapatkan penghargaan dari Amrik dan Jepang atas penelitiannya menemukan salah satu obat kanker hati.
    Sayang Indonesia nggak mau ngembangkan. Wong penghargaan saja nggak mau, keduluan Amrik dan Jepang. So, tak usah heran bila kita nanti membeli karya anak negeri ke luar negeri.
    Itulah bedanya, kita senang import yang asalnya dari dalam negeri, lalu membeli setelah jadi. Di Surabaya juga ada seorang Profesor mengembangkan berbagai tanaman untuk pilihan pengobatan kanker stadium dini. Tapi tanpa campur tangan pemerintah selaku penyedia dana, mana tahan.
    Pengembangan keilmuan di Indo masih banyak kendala birokratis, padahal bahan baku melimpah.
    Pernah saya diminta mempresentasikan di kantor Gubernur dan balaikota, sambutan bagus, tepuk tangan, … hanya sampai disitu doang. Selesai, gak berlanjut.
    Lalu kapan petinggi negeri mau maju ya😀

  12. de Februari 16, 2007 pada 7:39 pm #

    saya juga lebih suka yang natural. Idem ama Lesca tuh. Meskipun reaksinya lama tapi tanpa efek samping dan dijamin amaaaaannn

  13. ndarualqaz Februari 20, 2007 pada 12:31 pm #

    setuju banget mas. dulu pas sma aku pernah sakit tipus parang sampe komplikasi ke hati. saat itu faal hatiku(kalo gak salah tu tanda kerusakan hati) sampe di point 650, padahal normalnya hanya 25-45, dan penderita lever itu poinnya sampe 800, jadi aku hampir kena tipus + lever. 3 minggu pertama aku minum obat dari dokter dan tiap 4 hari aku chek ke lab. ternyata baik tipus maupun faal hatinya hanya turun sedikit banget. padahal saat itu aku bener bener istirahat total (faal hati saat itu turun di point 620). habis 3 minggu itu akhirnya kakekku maksa aku buat minum obat tradisional yaitu meniran (akarnya)+temulawak yang di rebus 3 kali sehari (buat hati) dan disuruh makan cacing seger(sumpah beneran cacing tanah, bukan yang udah jadi tablet, cuma jeroannya tu cacing dah dibersihin, buat tipus). 5 hari kemudian faal hatiku turun di point 12 (lebih sehat dari orang normal hehehehe) dan tipusku (kalo gan salah sebutannya widal apa gitu ) turun di point tipus ringan. 1 minggu kemudian akun dinyatakan sehat 100%.

    jadi mulai sekarang kalo aku sakit aku pasti pake obat tradisional buatan resep kakekku dan pakdheku(kebetulan beliau berdua profesinya pambibit tanaman hias dan pengembang tanaman obat tradisional). misal kalo pas demam ringan langsung aja ngepel kamar (hehehe itu mah bukan obat, tapi manjur)

    hidup obat tradisional.

  14. crushdew Februari 21, 2007 pada 3:00 pm #

    setuju sih..tapi alam yang mana?
    bukannya alam kita udah tinggal kenangan?

  15. ichsanmufti Februari 21, 2007 pada 4:38 pm #

    Namun kini Terbukti bahwa pengobatan herbal mulai sangat digemari..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: