Agama di Komersilkan, siapa yang salah?

5 Mar

Saya tidak habis pikir dengan perkembangan yang terjadi dengan dunia sinetron di tanah air. Begitu banyak senetron yang muncul, dengan judul yang kadang sangat tidak masuk akal. Sebenarnya saya orang yang tidak pernah peduli dengan yang namanya sinetron, tapi kali ini mau tidak mau saya akan menulis apa yang selama ini menjadi kegelisahan saya tentang dunia sinetron. Seperti apa yang pernah di tulis oleh Cak Moki dengan judul postingan ”Sinetron dokter tidak mendidik”. Dan itu memang benar sekali, namun kali ini akan saya coba angkat sisi lain dari yang namanya sinetron, yakni para pemain dan orang-orang di balik itu.

Semalam saya terkejut melihat sebuah iklan tayangan sinetron Hikayah di sebuah televisi swasta di tanah air. Sudah jelas-jelas bahwa sinetron itu bernuansakan Islam. Tetapi kenapa ada salah satu pemainnya yang beragama non muslim. Sudah habiskan para aktor muslim yang bisa memainkan peran itu. Saya tidak membenci agama apapun, untuk saya kebebasan beragama merupakan hak setiap orang yang mempunyai nyawa. Tetapi ini soal akidah, soal kepercayaan. Bagaimana mungkin seorang yang non musilm bermain di sinetron yang bernuansa Islam. Siapakah yang perlu di persalahkan dalam hal ini, aktor, aktris, produser, sutradara atau siapa?

Kalau saya lihat tidak hanya sekali ini saja. Sudah banyak sekali cerita-cerita sinetron Islam tetapi di perankan oleh orang non muslim. Saya tidak pernah melihat langsung sinetron tersebut. Karena buat saya sinetron, infotaiment (gosip) di televisi-televisi kita banyak yang tidak mendidik. Sinetron dan gosip kita tidak ubahnya seperti sampah, sampah yang tidak berguna, sampah yang tidak bisa di daur ulang.

Kata-kata Demi Allah, Insa Allah saat ini hanyalah sebatas di lipstik saja. Orang-orang di luar muslim mereka fasih mengucapkan kata-kata yang seharusnya sakral untuk kita orang Islam. Seharusnya kata-kata tersebut bukan untuk main-main. Karena Demi Allah, kata-kata tersebut mempunyai makna yang sangat dalam buat orang muslim seperti saya.

Begitu juga dengan atribut. Jilbab, mukena, dan lain-lain yang itu mencerminkan muslim saat ini sudah tidak begitu identik dengan seorang muslim. Seorang yang non muslim hanya karena peran dia mau menggunakan mukena untuk solat, menggunakan jilbab dan lain-lain. Dalam hal ini ini siapa yang salah, si artis, produser, sutradara atau siapa? Ataukan memang semuanya sudah di perbudak dengan yang namanya uang. Apapun akan di lakukan asal dapat uang. Agama di jual karena uang, ideologi di pertaruhkan karena uang.

Oleh sebab itu tidak heran kalau belakangan bencana datang silih berganti. Bahkan suatu hari media cetak mengangkat topik liputan yang sangat bagus dengan judul ”Arisan Bencana di Indonesia”. Dan memang sepertinya ini yang terjadi di bumi kita ini. Kereta api, kapal laut, pesawat terbang, tanah longsor dan lain sebagainya. Semua seolah-olah tinggal nunggu giliran kapan akan dapat bagian (arisan). Semoga arisan bencana di tanah air ini akan berakhir. Semoga orang-orang yang ada di muka bumi ini akan tobat, dengan tidak menjual belikan agama dan lain-lain. Semoga.

Tetap semangat, dan terus berjuang.

13 Tanggapan to “Agama di Komersilkan, siapa yang salah?”

  1. cakmoki Maret 5, 2007 pada 12:37 pm #

    Peran yang tidak tepat dan asal-asalan apalagi menyangkut aqidah, perlu dikoreksi agar tidak salah tangkap bagi yang sangat awam.
    Hal-hal yang dianggap kecil semisal pengucapan suatu lafadz bisa berakibat besar jika salah ucap. Kayaknya para pembuat sinetron belum mempertimbangkan aspek aqidah. Dan kemungkinan besar masih dipengaruhi aspek pasar alias uang walaupun dibungkus kalimat dakwah.
    Setuju Pak, semoga mereka tidak lagi memperjual belikan agama.

    Atau jangan-jangan yang membuat sinetron tersebut bukan seorang muslim, jadi mereka memang tidak tahu akan hal itu.Seharusnya kita orang muslim yang harus meluruskan itu. Bahwa Islam agama besar, agama yang hebat. Semoga mereka di ampuni dosa-dosanya.

  2. afin Maret 5, 2007 pada 1:01 pm #

    wah ya itu tuh, kadang saya pengen protes lihat tayangan sinetron misteri yang cuma berisi cara menghilangkan hantu dengan doa pak haji, apes aja, padahal setahuku enggak semudah itu tuh sebuah doa begitu hebatnya terkabul sketika.
    Rasanya mereka harus melakukan riset lebih dalam.

    Sepertinya ini berjalan sudah lama sekali. Dulu waktu saya masih kecil, saya juga sering nonton film, kalau ada setan keluar pasti yang di baca Ayat Kursi, atau ayat2 yang lain. Bahkan ada guyonan yang mengatakan “Apakah agama Islam hanya untuk mengusir setan”. Semoga orang2 yang beriman bisa meluruskan akan kesalahan-kesalahan ini semua.

  3. jokotaroeb Maret 5, 2007 pada 3:11 pm #

    Saya setuju sekali bukannya saya melarang non muslim memainkan peran itu apa tidak ada lagi pemain lagi?pertanyaan itu yang selalu ada menjadi pertanyaan di lubuk hati saya.

    Rasanya sangat janggal menonton seperti itu mereka tidak tahu permainan apa yang sedang mereka mainkan, coba mas tanyakan kepada Ustadz, atau siapapun yang mengerti tentang agama apa ada hukumnya? jika melihat dari sudut pandang agama islam.

    terima kasih.

    Semoga Kang Tajib bisa memberikan penjelasan tentang hal ini.

  4. xwoman Maret 5, 2007 pada 4:57 pm #

    baik aktor, aktris, produser, sutradara atau siapapun juga yang terlibat, tanpa mengetahui hakekat sebenarnya apa yang sedang di mainkan sebenarnya sedang menggadaikan aqidah demi kenikmatan sesaat. Betuull ????

    Betul sekali, sepertinya mereka mau serba instan dengan dapat uang banyak, tetapi tidak memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan. Semoga mereka di ampuni dosa-dosanya.

  5. Kang Kombor Maret 5, 2007 pada 5:07 pm #

    Betulll….. waktu ada artis bukan muslimah yang memerankan wanita muslimah dan pada sinetron/film ada adegan membaca Al-Qur’an, rasanya hati ini nggak rela banget. Walaupun artis itu harus siap memerankan adegan apa pun, seharusnya sutradara atau produser milih artis dengan akal sehat, jangan asal dapat artis saja.

    Agama dikomersilkan salah siapa? Agama dipolitisir salah siapa?

    Yah begitulah Kang, saya juga terus terang sangat perihatin melihatnya.
    Sepertinya yang salah kita-kita juga yang Kang, seharusnya kita bisa menghentikan itu. Gimana ya caranya?

  6. masdhenk Maret 5, 2007 pada 7:02 pm #

    tipi…
    dunia penuh muka..

    Muka yang penuh dengan kebohongan dan keburukan yang lain. Seharusnya tivi mencerminkan suatu bangsa, tapi kalau di Indonesia sepertinya cermin itu sangat rusak dan buram.

  7. helgeduelbek Maret 5, 2007 pada 7:57 pm #

    ah yang penting bisnis dapat duit, yang begituan nomor enam, pikir pembuatnya, dasar gemblung tenan.

    Bukan nomer enam lagi Mas, kayaknya sudah nomer 999. Dunia bisnis sudah menutup mata dan hati mereka.

  8. dani iswara Maret 6, 2007 pada 7:09 am #

    sinetron indo masi layak tonton ya..😦

    Siapa yang bilang layak di tonton, sinetron kita sudh tidak layak di lihat, itu sampah yang tidak bisa di apa-2kan lagi.

  9. mutiaramaya Maret 6, 2007 pada 10:24 am #

    adanya arisan bencana di negara kita gag lepas juga dari ulah kita sendiri. membuang sampah sembarangan bikin banjir, manajemen transportasi yang mesti dibenahi, penjualan tiket murah transportasi tanpa mempertimbangkan keselamatan penumpang..

    Semua lini di bangsa ini sudah hancur, rakyat, pejabat..semuanya. Kapan ya bangsa ini akan membaik, akankah ke depan bangsa ini akan membaik, semoga.

  10. de Maret 6, 2007 pada 10:40 am #

    aku yo ra doyan nonton sinetron. apalagi Hikayah itu. Mending nonton Tukul waeeehhh!!!

    oooo…gunu yo Dhe, amit lek aku ra doyan loro-lorone. Mending nonton sepak bola, atau berita.

  11. Lesca Maret 6, 2007 pada 4:45 pm #

    Saya juga ga pernah berhenti takjub ngeliat sinetron2 yang diputer di TV.
    Anehnya kok ya ada aja yang nonton ya?
    Yang paling serem ngebayangin kalo anak2 seumur anak saya ikut2an nonton…😦

  12. kangguru Maret 7, 2007 pada 11:15 am #

    Ekonomi nampaknya sudah menjadi khalifah, sehingga agama jadi komoditi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Yang Lebih Hebat dan MahaKuasa Daripada Tuhan « Parking Area - Juni 9, 2007

    […] mereka memodifikasi dan memutilasi ayat/hadis dan sumber sumber lain demi kepentingan komersil hingga kepentingan nafsu, bid’ah membid’ahkan, kafir mengkafirkan sampai sampai kepentingan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: