Nasib Petani: Dulu, Kini dan yang Akan Datang

10 Apr

Tapi tengkulak-tengkulak bergentayangan.
Namun lintah daratan bergentayangan.

Untuk apa punya Pemerintah, kalau hidup, terus-terusan susah.

(Penggalan sair lagu Desa oleh Iwan Fals)

Penggalan sair lagu di atas, yang kini sedang di rasakan oleh petani-petani yang ada di daerah Belitang I dan sekitarnya. Bagaimana tidak, seharusnya di bulan-bulan ini mereka yang sedang panen raya merasa gembira, namun kegembiraan itu hanya sebatas angan. Tengkulak, lintah darat dan sejenisnya bergentayangan di mana-mana. Uang yang mereka dapatkan dari hasil panen, mau tidak mau harus dibayarkan kepada tengkulak. Itu mereka lakukan, karena sebelum panen mereka sudah meminjam uang kepada tengkulak. Sebenarnya itu tidak jadi soal, asal saja hasil panen yang mereka dapatkan di beli dengan harga tinggi. Kenyataan di lapangan, Gabah Kering Panen (GKP) di beli Rp. 1.700 per kg, di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang sejak April sebesar Rp. 2.000 per kg.

Tidak itu saja, petani juga di hadapkan dengan persoalan yang lain. Harga beras hanya Rp. 3.500 perk kg di bawah HPP Rp. 4.000 per kg oleh Bulog atau pemerintah. Sebuah harga yang jauh di bawah harga standar. Memang seperti itu yang terjadi selama ini. Di saat musim panen tiba, harga gabah, dan beras cenderung turun. Namun kalau paceklik datang, harga beras meroket bagai jet tempur. Sungguh miris nasip para petani, di saat musim paceklik tiba, mereka harus membeli beras yang notabane itu beras dari sawah mereka sendiri. Mungkin ini di rasakan bukan saja oleh para petani di Belitang I dan sekitarnya, namun juga di rasakan oleh seluruh petani di negeri ini.

Lalu siapa yang seharusnya di persalahkan dalam kasus ini, petani, pemerintah atau tengkulak. Dari sisi petani mereka memang mau tidak mau harus meminjam uang di tengkulak. Uang tersebut mereka gunakan sebagai modal untuk masa-masa perawatan padi sampai panen tiba. Baik itu untuk pupuk atau obat-obatan. Dan memang harga pupuk dan obat-obatan sangat mahal. Wajar saja kalau petani kekurangan uang untuk modal. Alternatifnya, pinjam uang ke tengkulak. Akhirnya saat panen tiba, uang yang mereka terima hanya sekedar numpang lewat saja. Karena selanjutnya uang tersebut harus berpindah tangan kepada para tengkulak.

Dari sisi pemerintah, seharusnya mereka menggalakkan atau menghidupkan kembali Koperasi Unit Desa (KUD). Ini di perlukan guna membeli hasil panen dari petani. Atau paling tidak membuat harga gabah dan beras sesuai dengan harga yang di tetapkan oleh pemerintah. Selain itu, koperasi juga bisa memberikan pinjaman dalam bentuk pupuk dan obat-obatan dengan harga yang terjangkau. Sehingga petani tidak terlalu banyak berhutang untuk membiayai tanaman padi mereka. Tetapi sayang, kalau saya perhatikan koperasi-koperasi unit desa yang ada di desa-desa kini sudah tidak ada lagi, sudah banyak yang mati atau tidak beroperasi. Saya tidak tahu, mengapa itu bisa terjadi. Mungkin saja karena pola pembinaan koperasi yang tidak bagus. Mungkin saja para pegawainya tidak di gaji dengan selayaknya. Sehingga etos kerja mereka ogah-ogahan. Pemerintah seharusnya tanggap dalam hal ini.

Di negeri ini, terkadang memang banyak hal yang tidak masuk akal. Salah satu contoh, kita yang banyak menghasilkan gabah atau beras, namun harus menginpor beras dari luar. Bagaimana sebenarnya pola pikir orang-orang yang duduk di pemerintahan. Di pikiran orang awam seperti saya. Seharusnya kita tidak perlu menginpor beras. Karena saya rasa dari hasil panen yang ada sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan. Tinggal bagaimana manajemen yang benar untuk mengolahnya. Sebagai contoh, untuk masa panen kali ini saja. Di Belitang I dan sekitarnya, Bulog hanya mampu menyerap 60.000 ton beras petani di Sumsel. Padahal di awal panel raya sekarang, Sumsel sudah mencapai 600.000 ton beras dan diperkirakan akan mencapai 1,8 juta ton. Dari jumlah 600.000 ton beras, sementara Bulog hanya mampu menyerap 60.000, berarti tersisa 540.000 ton beras. Lalu harus lari dan di beli oleh siapa sisa beras tersebut, kalau bukan oleh para tengkulak. Dan pasti oleh tengkulak akan di beli dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini lagi-lagi petani yang haus rugi.

Nasib yang di rasakan oleh para petani ini bukan cerita yang baru. Cerita ini sudah lama terjadi. Di setiap panen tiba, inilah yang selalu di rasakan oleh para petani. Kalau memang begini keadaannya, maka nasip petani: dulu, kini dan yang akan datang akan tetap sama saja. Selalu dalam kondisi yang tercepit. Kapan ya petani di negeri ini akan menikmati hidup yang layak. Kapan ya petani di negeri ini akan bangga menjadi petani. Bangga dalam artian memang jadi petani bisa di jadikan sebagai tumpuan untuk hidup yang layak.

Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar warganya tidak pindah ke kota.
Desa harus jadi modal utama, untuk kita mengembangkan diri.

(Penggalan sair lagu Desa oleh Iwan Fals)

Tetap semangat, dan terus berjuang.

13 Tanggapan to “Nasib Petani: Dulu, Kini dan yang Akan Datang”

  1. abahapis April 11, 2007 pada 9:00 am #

    Yah, itulah nasib petani yang menanam padi sekarang ini, udah harga pupuk dan obat2an mahal, hasil panen debeli dengan harga murah. Makanya, bapak saya yang TU (Tani Utun) lebih memilih nanem ubi daripada padi, selain perawatanya mudah,hasil/harganya lebih setabil, kalopun nanem padi paling buat persediaan beras sendiri.

  2. venus April 11, 2007 pada 10:42 am #

    ini yg bikin kita gak habis pikir, ya kan, mas? harga gabah segitu, mereka beli dari petani segitu, lha kok di pasaran harga beras jadi segitu. opo tumon????

  3. Deni Triwardana April 11, 2007 pada 1:25 pm #

    Ada lagi yang jadi masalah bagi petani lahan pertanian banyak yang berubah fungsi menjadi perumahan, real estate dll.. gimana ?

  4. ..:X W O M A N:.. April 11, 2007 pada 6:16 pm #

    Kasian sekali para petani, mungkin selain daripada kekurangan biaya operasional karena kurangnya juga pengetahuan petani dalam memanage hasil tanam dan penguasaan pasar lebih didominasi para tengkulak. Makanya para petani mendapatkan harga yang tidak layak dan para konsumen membeli dengan harga yang jauh dari harga jual petani!

  5. micokelana April 11, 2007 pada 6:20 pm #

    Gak ada tengkulak gak ada petani.

    Yog udah dapet akses belom…?? Ada salah satu Radio ISP di daerah blok-m, deket ama kantor lo tuh, harga akses juga murah 300rban per bulan. Bisa jadi alternatif tuh

  6. kangguru April 12, 2007 pada 10:30 am #

    begitulah pemuda/i di desaku lebih memilih jadi tukang ojek daripada jadi petani

  7. EVY YG GAPTEK April 12, 2007 pada 3:38 pm #

    Aduuuh gimana ya mosok pemerintah ga da program yg jelas gitu lho untuk petani, dulu ada klompen capir, rus koperasi itu apa masih jalan pak

  8. helgeduelbek April 12, 2007 pada 5:01 pm #

    Pemerintah itu tidak salah berbuat begitu… kan tukang perintah. Kecuali Pengayom atau pelayan atau pengatur maka itu akan bener-bener membantu petanišŸ˜€

  9. Anang April 12, 2007 pada 6:42 pm #

    kaum petani sekarang terpinggirkan.. padahal berkat jasanyalah kita bisa menikmati enaknya sepiring nasi….. dengan lauk pauk yang kita makan…. hmmm…. tapi petani tidak pernah dihargai… dibuat pemuas nafsu perut pejabat2 korup!

  10. Livette April 17, 2007 pada 6:44 am #

    Nice blog!

  11. deedhoet April 25, 2007 pada 6:29 pm #

    Di sini pedagang lebih dihargai daripada produsen… Belum lagi kalo ada gagal panen karena tikus, wereng, bencanašŸ˜¦

  12. juliach April 27, 2007 pada 5:23 am #

    seharusnya pemerintah indonesia belajar dr negara maju (mis: perancis) utk menghidupkan kembali pertanian. tdk kirim orang ke eropa utk hanya photo-photo & shopping dgn dalih studi perbandingan ato apa kek istilahnya.

  13. Pencangkul Desember 31, 2007 pada 7:13 pm #

    Ini jelas membicarakan saya, tanpa sindiran, tapi langusng tonjokkan. Salam kenala, salam dari ladang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: