Masalah Interkoneksi, Dan Perang Tarif Antar Provider

1 Mei

Tiga hari berturut-turut, jaringan seluler (Indosat) yang saya gunakan mengalami error. Terhitung dari tanggal 27-29 April saya tidak bisa menggunakan telpon gengam yang saya miliki, baik untuk telpon atau sms (short message services). Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan jaringan provider yang saya gunakan, karena memang tidak ada pemberitahuan. Yang jelas saya merasa benar-benar kecewa dengan apa yang saya alami tersebut. Sebagai konsumen saya sangat di rugikan. Peraktis tiga hari kemarin seolah-olah saya hanya punya seonggok barang (handphone), yang tidak bisa di gunakan untuk apa-apa. Kesel.

Kejadian seperti di atas sebenarnya sudah sering saya alami. Dan juga mungkin ketidaknyamanan ini sering di alami oleh para pengguna seluler yang lain. Ketidaknyamanan yang saya alami bermula dari adanya tarif hemat 50 rupiah per 30 detik dari Indosat yang berlaku dari hari Jumat sampai Minggu. Memang, awal di luncurkannya tarif tersebut berjalan dengan baik-baik saja. Namun tiga Minggu berikutnya, koneksinya mulai bermasalah. Setiap hari Jumat sampai Minggu sangat sulit sekali melakukan panggilan. Koneksi sering terputus. Seolah-olah nomer yang ingin saya hubungi dalam kondisi sibuk, padahal tidak demikian. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kebetulan hari-hari itu (Jumat-Sabtu) ada berita yang sangat penting dan mendesak yang harus di sampaikan. Tetapi koneksi error, siapa yang harus di persalahkan. Saya? Apakah saya harus ganti provider. Tetapi sudah jelas, yang mengalami kerugian oleh kejadian tersebut adalah konsumen. Lagi-lagi konsumen yang harus menanggungnya. Bukankah seharusnya atau idealnya teknologi yang ada, yang kita miliki dapat membantu mempermudah dalam aktifitas kehidupan kita. Tapi kalau seperti ini yang terjadi, bukan malah membantu, tetapi nambah bikin ngilu.

Interkoneksi
Masalah yang satu ini menarik untuk di bicarakan, terutama bagi saya. Karena yang terjadi selama ini. Kita selalu mengalami kesusahan untuk melakukan interkoneksi antar provider. Coba bayangkan, betapa susahnya para pengguna provider CDMA yang akan melakukan penggilan kepada para pengguna GSM, dan atau sebaliknya. Ini bukan cerita bohong belaka, namun kenyataan. Cerita soal bohong, saya jadi inget dengan iklan satu provider baru yang ada di tanah air. Bahwa ”Bohong itu Dosa”. Sudah pasti, bohong itu dosa, tapi untuk apa punya pulsa kalau tidak bisa melakukan panggilan atau sms, sama saja bohong bukan? Lalu yang mau saya pertanyakan, di mana peran pemerintah dalam hal ini Menkoinfo, peran BRTI, dalam hal menanggapi kasus-kasus yang terjadi soal interkoneksi.

Selain susah berkoneksi antar provider, soal tarif juga menjadi permasalahan yang lain. Dan ini bukan rahasia lagi, bahwa untuk melakukan panggilan dari satu provider ke provider yang lain akan di kenakan cash dengan harga yang lumayan. Oleh sebab itu, tidak salah dengan mahalnya biaya antar provider tersebut yang pada akhirnya membuat kita berada pada komunitas-komunitas kecil. Contohnya saya, saya menggunakan Indosat secara otomatis pacar saya juga saya arahkan untuk menggunakan Indosat. Ini saya lakukan bukan apa-apa, hanya ingin mencari murahnya saja. Kalau antar provider tarif yang di berlakukan tidak jauh berbeda atau mungkin sama, maka ini tidak akan terjadi. Begitu juga dengan satu keluarga, pasti mereka akan menggunakan provider yang sama. Yang pada akhirnya membuat kita semacam terkotak-kotak, ini pengguna provider A, ini pengguna provider B, dan lain sebagainya.

Memang, dengan begitu banyaknya provider yang bermain di tanah air, secara tidak langsung menguntungkan kita sebagai konsumen. Karena banyak pesaing, maka mereka secara otomatis akan perang dengan harga. Mulai dari bonus pula, bonus sms, sampai dengan bonus gratis telpon setahun. Tapi jangan berharap ini berlaku untuk para pengguna yang beda provider. Soal tarif, memang sekarang para provider lagi perang. Namun kalau kita mau kilas balik sedikit ke beberapa tahun yang lalu. Betapa kaya dan untungnya provider-provider tersebut. Coba di ingat-ingat, dulu kita mau beli kartu perdana di patok dengan harga di atas 100 ribu atau bahkan lebih. Namun kini, hanya dengan 15 ribu ples pulsa 10 ribu, kartu perdana sudah ada di tangan kita. Nah, dengan harga 15 ribu saat ini saja mereka sudah untung, apalagi dulu dengan harga 100 ribu, besar sekali untung mereka. Para provider untung, sementara kita, buntung.

Kalau mau di bandingkan dengan negara-negara lain, seperti Korea Selatan, India, Singapura dan Amerika, soal tarif Indonesia memang masih sangat mahal. Lebih jelas, soal perbedaan tarif telpon tersebut, silahkan KLIK DI SINI.

Ya, memang begitulah dunia bisnis. Ada pihak yang untung dan ada pihak yang kurang beruntung.

Selalu semangat, dan terus berjuang.


14 Tanggapan to “Masalah Interkoneksi, Dan Perang Tarif Antar Provider”

  1. kangguru Mei 1, 2007 pada 2:08 pm #

    hm koneksi dalam bidang apapun masih mahal di negeri ini

  2. Deni Triwardana Mei 2, 2007 pada 11:56 am #

    Sama Mas kartu SIM saya juga Indosat tapi karena ada kartu kedua dari provider lain Alhamdulillah masalah komunikasi tetep lancar, jadi memang harus punya kartu cadangan yang lain provider, tapi kalau semua sama-sama error atau interkoneksi bingung juga ya…

  3. ilham Mei 2, 2007 pada 12:14 pm #

    mgkn gara2 3,5 G indosat lagi diujicoba, jadi semua resources malah kesdot dan jaringan kita kacau balau… atau bisa jg seperti analisisnya kang

  4. Kang Kombor Mei 2, 2007 pada 8:31 pm #

    Kemarin kok mentariku sepertinya normal ya. Apa karena jarang dipake ya?

  5. junthit Mei 3, 2007 pada 3:58 am #

    kalau dibanding Bahrain tarif kita jauh lebih murah lho ..

  6. Evy Mei 3, 2007 pada 1:09 pm #

    Wah kirain cuman WP aja yang error pak…ternyata telpon genggam error juga ya?

  7. ndarualqaz Mei 3, 2007 pada 2:49 pm #

    iya nih, kok koneksi di indonesia gak pernah lancar, paling yang bisa lancar cum koneksi antar keluarga pejabat aja. (saat ini koneksi antara otak, kantong dan perut saya juga sedang terganggu. alias bokek, hehehe)

  8. xwoman Mei 3, 2007 pada 8:11 pm #

    hmm… kalo gitu kencannya pindah jadwal donk mas, jadi malam jumatan😆

    Selama pake simPATI baru 2 kali mengalami gangguan, jaringan OK. Tapi segala sesuatu memang ada untung ruginya kelemahannya mahal😀

  9. prim Mei 4, 2007 pada 7:48 am #

    tapi harus sabar ya mas…karena sesuatu itu pasti ada kurangnya…! atau pergi aja ke wartel sekejap… he he he

  10. venus Mei 8, 2007 pada 9:28 am #

    saya ga pake satelindo😀

  11. JURAGANBATIK Mei 10, 2007 pada 2:34 pm #

    M3 Ga ada masalah tuhhhh………….

  12. cakmoki Mei 11, 2007 pada 5:05 am #

    horeee, saya pakai simpati model lama selama 9 tahun jarang ada gangguan.
    Mungkin sekarang jargon “pembeli adalah raja” sudah diubah menjadi “penjual semaunya”

  13. rickisaputra Mei 20, 2007 pada 1:07 pm #

    mmhh.. beberapa waktu yang lalu Simpati juga error… trus ganti ke XL juga lagi errrorr….. waduh.. pusing dah..

    btw salam kenal.. blogwalking.. great blog..
    regards,

  14. ndutz November 30, 2007 pada 9:44 am #

    gw dulu pernah pake flexi, trus karena merasa mahal banget gw pindah nech pakje starone.. eh ternyata murah banget.. tapi ya gitu dech masalahnya ada di signasl euy.. kurang banget.. thanks.. great job..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: