Hukum di Negeri ini, Untuk Siapa?

8 Sep

Sebenarnya saya tidak tertarik untuk menulis dengan bahasan judul di atas. Namun setelah mendengar cerita dari ”orang dekat saya”, tentang kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu di daerahnya. Tetap saja, saya jadi tidak tahan untuk berdiam diri membiarkan kejadian itu hilang begitu saja. Apalagi saya punya media (blog) yang saya pikir bisa saya jadikan sarana untuk bercerita. Toh, walaupun pada akhirnya tulisan ini tidak ada yang membaca atau memberikan komentar, saya tidak ambil pusing, saya tetap akan menuliskannya. Karena saya yakin, suatu hari nanti pasti akan ada orang yang datang ke blog ini dan kemudian meluangkan waktunya untuk membacanya.

Saya mulai saja ceritanya. Cerita ini berasal dari suatu daerah di Pekalongan – Jawa Tengah. Dan cerita ini benar-benar terjadi (kenyataan), bukan cerita bohong atau karangan saya. Manusia memang mahluk sosial, oleh sebab itu kita selalu hidup saling membutuhkan. Gotong royong, saling membantu memang menjadi ciri tersendiri bagi kita manusia (Indonesia). Walaupun mungkin ini masih bisa diperdebatkan. Aroma saling membantu, pinjam meminjam di daerah (kampung) memang masih sangat kental jika di bandingkan dengan yang ada di perkotaan. Karena praktis di perkotaan budaya gotong royong, saling membantu sudah pudar. Yang ada lo-lo, gua-gua (saya-saya, kamu-kamu).

Kliwon adalah anak yang masih duduk di bangku SMP. Dan kebetulan Kliwon mempunyai kendaraan bermotor yang di peroleh dari orang tuanya. Tapi untuk ukuran di daerah PN (penulis sengaja tidak sebutkan nama daerahnya). Kliwon dan keluarganya terbilang kurang mampu, motor yang dia miliki itupun dia dapatkan orang tuanya dengan susah payah, kerja pontang-panting, dan jual sana-sini. Kliwon mempunyai teman yang namanya Wage. Wage orang derah PN mengenalnya dengan anak yang nakal/badung, tidak tahu diri, intinya Wage ”anak preman”, walupun usianya terbilang masih sangat muda.

Suatu hari Wage pinjam motor yang di miliki Kliwon. Karena merasa tidak enak dan apalagi Wage adalah teman satu kampung. Maka Kliwon memperbolehkan motor yang ia miliki di pinjam oleh Wage. Saat itu, Wage mengatakan hanya pinjam 1-2 hari saja. Tetapi setalah di tungu sampai hari ke tiga, ternyata motor yang di pinjamkan tidak juga di kembalikan. Sebenarnya Kliwon sudah curiga, tetapi ingin menanyakan langsung ke kapada Wage, tidak berani. Namun setelah lebih dari satu minggu, akhirnya Kliwon membernaikan diri untuk menanyakan keberadaan motornya. Lantas Wage menjawab ”ada”. Kalau memang ada, mana motornya? lanjut Kliwon. Selanjutnya Wage menjawab ”motor kamu sekarang sedang di pakai oleh teman saya, nanti dua hari lagi pasti dia akan kembali”. Sudah dua minggu lebih ternyata motor yang di tunggu-tunggu oleh Kliwon tidak juga datang. Kliwon mencoba bertanya lagi kepada Wage, dan lagi-lagi jawabnya adalah masih di pinjam teman dan belum dikembalikan. Usut punya usut, ternyata motor tersebut di gadaikan oleh Wage.

Suatu hari, setelah tiga minggu motor yang di pinjam oleh Wage tidak kembali-kembali. Dan di satu sisi Wage juga sudah mulai kesal dan Kliwon yang selalu menagih/menanyakan keberadaan motornya. Wage mengajak Kliwon jalan-jalan ke luar kota, alasannya si Wage minta di temanin karena merasa tidak enak kalau pergi sendirian. Ajakan dari Wage di setujui oleh Kliwon. Dan pergilah mereka berdua. Tiga hari Kliwon tidak pulang-pulang, padahal dia berjanji kepada keluarga hanya pergi tidak lebih dari dua hari. Namun hari keempat, keluarga Kliwon mendapat kabar dari Wage, bahwa anaknya sudah meninggal dunia. Saat itu alasan Wage, Kliwon meninggal karena jatuh di sungai dan tidak sempat tertolong. Mendengar kabar tersebut keluarga langsung shok, seakan tidak percaya kalau Kliwon sudah tiada.

Seminggu setelah kejadian tersebut, ternyata di dapatkan fakta yang sebenarnya dari kejadian yang telah menimpa Kliwon. Dari fakta yang di dapatkan, Kliwon meninggal bukan karena jatuh ke sungai, melainkan Kliwon meningal di bunuh Wage dan teman-temannya. Sebenarnya keluarga sudah tahu, bahwa Kliwon meninggal tidak wajar. Tetapi apa daya keluarga tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka juga tidak mampu untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib. Alasan mereka sangat klasik. Mereka tidak punya cukup uang untuk melaporkan kasus pembunuhan anaknya kepada polisi. Mereka berkata, biaya memulangkan jenazah anaknya saja sudah pinjam sana-sini. Apalagi untuk memperkarakan kasus tersebut ke meja hijau, mereka tidak mampu. Apakah untuk sekedar melaporkan kejadian yang menimpa (pembunuhan) dan kemudian meminta pihak yang berwajib mengusut kasus tersebut (di meja hijaukan) kita (rakyat) harus menggunakan uang?

Apakah kita sebagai rakyat harus punya uang dulu untuk melaporkan kasus yang ada. Lalu kalau kita tidak punya uang yang cukup bagaimana?. Di manakah hukum di negeri ini. Apakah hukum di negeri ini hanya untuk orang-orang yang punya uang saja. Apakah hukum di negeri ini tidak untuk orang yang tidak punya uang dan kuasa. Bukankah yang dilakukan seoarang anak yang masih sangat muda bernama Wage tersebut sangat biadab dan tidak berprikemanusian. Bukankah kejahatan yang telah ia lakukan berlapis-lapis: mencuri/menghilangkan motor, membunuh dengan rencana (pembunuhan terencana). Di mana hukum di negeri ini? Lalu hukum yang ada untuk siapa? Apakah keluarga miskin seperti keluarga Kliwon tidak pantas mendapatkan keadilan. Bukankah Wage bisa terjerat Pasal 340 KUHP soal pembunuhan terencana. Yang bisa dihukum (dipidana) mati.

Namun, itulah yang terjadi, keluarga Kliwon tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun mereka tahu akan fakta yang sebenarnya tentang peristiwa yang menimpa anaknya. Sementara sampai tulisan ini saya buat, dan mungkin sampai selamanya, Wage akan tetap tenang-tenang saja. Bermain, berbuat jahat, melakukan premanisme tanpa ada beban apapun. Dia tetap bebas, seakan-akan pembunuhan yang dia lakukan terhadap almarhum Kliwon tidak pernah terjadi.

Semoga arwah almarhum Kliwon di terima di sisihNYA, Amin ya robal alamin. Dan semoga Wage, walaupun di dunia dia akan lepas dan bebas dari hukum, namun tidak kelak dengan hukum Allah.

Selalu semangat, dan terus berjuang.

4 Tanggapan to “Hukum di Negeri ini, Untuk Siapa?”

  1. danalingga September 9, 2007 pada 1:05 pm #

    apa bener jika hanya melapor aja perlu biaya ya? Sebab ini adalah kasus pembunuhan, yang tanpa di adukan pun seharusnya tetep di proses polisi jika di ketahui.

  2. doeytea September 10, 2007 pada 11:35 am #

    Kejadian ini persis dialami oleh tetangga saya di Pekalongan, seorang anak Madrasah Aliyah dibunuh oleh tetangganya sendiri karena ingin memiliki sepeda motornya. Namun kasus ini diberitakan oleh media massa sehingga polisi juga memproses kejadian ini dan menangkap pelakunya. Jadi kayaknya supaya kasus di atas juga mendapatkan perhatian penegak hukum maka perlu liputan media. Kalau tidak ada tekanan seperti ini penegak hukum nampaknya juga enggan memprosesnya.
    Kejadian yang mirip juga menimpa adik ipar saya. Masih du Pekalongan. Motor yang dipinjam dari kakaknya dibawa kabur sama temannya. Akhirnya fihak keluarga minta bantuan seorang polisi untuk mencarinya. Akhirnya pelakunya ditemukan dan motornya pun kembali tapi ongkos yang harus dikeluarkan kepada oknum polisi itu sekitar 3 juta (harga motornya waktu itu sekitar 6 juta). Dan saya heran, pelakunya ternyata tidak diproses secara hukum, padahal sudah jelas-jelas membawa kabur motor. Saya curiga, si pelaku juga nyetor ke polisi agar ia bebas. Jadi si oknum polisi dapat setoran dari korban juga dapat dari pelaku.

  3. de September 11, 2007 pada 6:18 am #

    maaf lahir batin mas…bentar lagi puasa😀

  4. sugeng Oktober 5, 2007 pada 3:46 pm #

    Memang kalau di daerah yang berlaku masih hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Apalagi di kampungnya Mas Yoga biasanya masalah sedikit saja bisa menjadi besar. Dan aparatpun kalau di daerah pelosok tidak dapat berbuat banyak. Justru kalau ada kejadian kriminal malah dijadikan proyek untuk cari duit.

    Kalau di daerah saya, di Belitang sana, kalau kita melaporkan preman di kampung kita yang berbuat kriminal, seperti : mencuri, malahan kita sendiri yang jadi sasaran.

    Jadi hukum hanya berlaku untuk yang lemah. Seperti Mata pisau tajam kebawah tumpul ke atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: