Mudik Lebaran dan Ajang Unjuk Kesuksesan

10 Okt

Saya tidak tahu pastinya, kapan fenomena mudik di negeri ini menjadi begitu dahsyatnya. Mungkin seiring maraknya tingkat urbanisasi. Atau mungkin di awali dari banyaknya orang-orang Jawa yang transmigrasi ke luar pulau Jawa, seperti ke pulau Sumatera, ke pulau Kalimantan, dan lain-lain. Mudik secara sederha di artikan pulang kampung atau kembali ke tanah kelahiran. Namun mudik tidak selalu di artikan pulang kampung atau ke suatu tempat yang jauh, yang memakan waktu berhari-hari. Pulang ke kampung yang di tempuh dengan naik kendaraan dengan memakan waktu dua jam saja, sebenarnya sudah bisa di katakan mudik. Tahun ini saya berkesempatan untuk tidak mudik. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa mudik dan kumpul dengan sanak famili di kampung halaman tercinta. 

Susah mencari mobil/bus yang layak, berdesak-desakan, berebut tempat duduk, ples barang bawaan yang begitu merepotkan, sudah di anggap biasa oleh orang-orang yang mudik. Satu tahun di kampung orang (merantau), tibalah saatnya lebaran di kampung sendiri. Walau kenyataan-kenyataan yang di alami seperti di atas, tetapi tetap saja mudik harus di laksanakan. Di satu sisi sepertinya pemerintah tidak pernah belajar dari pengalaman. Yang saya rasakan untuk dapat pulang ke kampung halaman saya, di Belitang. Dari tahun ke tahun selalu saja kejadian-kejadian yang tidak mengenakan terjadi. Pernah suatu kali di mudik lebaran tahun 2005 saya harus ribut dengan petugas dan sopir di Terminal Kalideres. Bagaimana tidak, kita di suruh kumpul jam tujuh pagi, mereka bilang jam 12 siang mobil sudah bisa berangkat. Faktanya, setelah di tunggu-tunggu, ternyata mobil yang akan membawa kami pulang tidak juga ada. Alasan mereka, terjadi kemacetan di Pelabuhan Merak. Entah, mungkin saja puasa saya hari itu batal, karena perang mulut dengan mereka. Setelah lama di tunggu, ternyata mobil baru datang pukul delapan malam. Betapa dongkolnya. Dan sepertinya kejadian seperti ini setiap tahun selalu saja terjadi. Ini juga yang merupakan satu alasan kenapa saya enggan pulang kampung.

Sadar tidak sadar, mudik lebaran sebenarnya menjadi ajang pamer keberhasilan atau kesuksesan. Tidak jarang orang akan melihat apa saja yang melekat di badan kita. Mulai dari aksesoris, pakaian, kendaraan, uang, dan lain-lain. Akan kelihatan wah kalau handphone yang kita pakai merupakan seri terakhir, atau akan kelihatan wah kalau di setiap ketemu anak kecil kita selalu memberikan angpao. Padahal mereka (orang-orang kampung) tidak pernah tahu apa yang sebenarnya di alami orang-orang yang merantau ke kota. Tidak semuanya orang yang merantau ke kota itu berhasil, buat mereka yang pekerjaannya bagus, gaji bagus, mungkin bagi-bagi angpao dan lain-lain, tidaklah menjadi masalah. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kerjanya bertipe BP-7 = berangkat pagi-pagi, pulang petang, pendapatan pas-pas-an. Tentu akan jadi persoalan. Hutang sana-sini sebelum pulang kampung, mengadaikan barang berharga, mungkin di anggap solusi. Walaupun sebenarnya nanti setelah kembali ke kota hutang dan masalah-masalah yang lain sudah menunggu. Tapi itu tidaklah jadi persoalan, yang terpenting adalah bagaimana caranya bisa lebaran di kampung.  

Sayang kalau kesempurnaan dari keceriaan di hari lebaran di bayang-bayangi dengan persoalan-persoalan seperti itu. Tapi itulah kita, warga Indonesia, banyak orang berpendapat bahwa tradisi mudik di negeri ini di anggap paling hebat dan paling heboh di seluruh dunia. Karena sependek yang saya ketahui, tidak ada warga negera lain yang melakukan apa yang di lakukan oleh warga negara ini (mudik lebaran). Ah, apapaun itu yang terpenting adalah kita harus tetap bersukur karena tahun ini kita masih bisa merasakan lebaran dengan hati yang tenang walau banyak utang. Karena banyak saudara-saudara kita yang masih di landa kesusahan karena bencana gempa bumi, tanah longsor, lumpur panas, kebakaran rumah dan lain-lain. Sekali lagi, apapaun yang saat ini kita rasakan dan alami kita harus masih bersukur ke pada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah di berikan kepada kita. Alhamdulillah.  

Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1428 H.
Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 Selalu semangat, dan terus berjuang.

10 Tanggapan to “Mudik Lebaran dan Ajang Unjuk Kesuksesan”

  1. siti kholifah Oktober 10, 2007 pada 12:47 pm #

    Selamat Idul Fitiri ya mas Yoga
    Mohon maaf lahir dan batin.

  2. Deni Triwardana Oktober 12, 2007 pada 3:46 am #

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H, Mohon Maaf Lahir & Batin Mas…

  3. Ersis Warmansyah Abbas Oktober 13, 2007 pada 7:21 pm #

    Mat Lebaran … maaf lahir batin

  4. kangguru Oktober 24, 2007 pada 1:53 am #

    wah mudik
    Taqaballahu mina wa minkum pak
    mohon maaf lahir bathin

  5. sugeng Oktober 26, 2007 pada 9:27 am #

    Taqabalallahu Minna wa Minkum, Siyamana wa Siyamakum.
    Minal Aidin wal Waidzin, Maaf lahir dan Bathin.
    Kalau tidak berdesak-desakan bukan mudik lebaran namanya. Justru disitulah nilai lebihnya. Kampungnya Mas Yoga di Sukarame kan sekarang lagi musim tanam padi (tandur) saya lewat pas mudik kemaren.
    Kalau sekarang kita sudah tidak bisa pamer lagi sama orang desa, karena sekarang teknologi sudah sampai ke pelosok. Bukan cuma HP, internet, bahkan orang desa sekarang banyak menonton siaran TV luar negeri melalui parabola. Kalau saya perhatikan orang desa sekarang lebih makmur daripada orang kota.

  6. Ersis Warmansyah Abbas Oktober 28, 2007 pada 3:18 am #

    Yaoi, macam-macamlah. Gimana sehabis Lebaran? Moga makin sukses Mas

  7. rivafauziah Oktober 31, 2007 pada 7:48 pm #

    Mudik VS Ajang Sukses… duh.. sepertinya sih iya, kebanyakan sih seprti itu…

  8. stey November 1, 2007 pada 8:46 am #

    Yah..mending yang pada bisa mudik..saya tahun ini sepi dari mudik..hehe

  9. Syarif Winata November 4, 2007 pada 2:42 pm #

    Biar udah lewat selamat hari raya Idul Fitru…

  10. Syaharuddin Januari 3, 2008 pada 11:02 am #

    bagi saya mudik itu penting, karena akan mempererat silaturami. Tapi kalau gak punya biaya mbo ya gak usah dipaksain, kan sekarang sudah era teknologi informasi jadi melalui SMS , email, nelpon kan bisa mewakili kehadiran kita di kampung, ya gak…….!?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: