Ringtone dan Cerminan Diri

5 Nov

Banyak layanan yang dapat di gunakan untuk membuat nada tunggu handphone (HaPe) yang kita miliki. Yang biasanya hanya tut…tut…tut, kini dapat berganti dengan sair-sair lagu yang indah dan enak untuk di dengarkan. Tidak ada salahnya, dan biasanya orang-orang yang beragama Islam cenderung memasang ringtone dengan lagu-lagu Islami, seperti lagu-lagu dari Bimbo, Opick, Snada, dan lain-lain. Begitu juga dengan anak muda (ABG) tidak ada salahnya kalau mereka memasang nada tunggu untuk handphone-nya dengan lagu-lagu anak muda, seperti lagunya Ungu, Ada Band, Kangen Band, dan lain-lain. Tetapi apa jadinya kalau ternyata penggunaan nada tunggu tersebut salah tempat.

Pekerjaan yang saya lakukan memang erat dan selalu berhubungan dengan orang lain. Namun saya bukan bekerja di bagian humas suatu perusahaan. Saya bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), devisi yang saya tempati adalah IT dan administrasi. Kerjaan yang saya lakukan terkadang melakukan hubungan dengan orang-orang yang ada di kalangan NGO (non government), kalangan akademisi, anggota DPR, dan lain sebagainya. Media komunikasi yang saya gunakan adalah telepon ataupun email. Terkait dengan itu, pengalaman saya sendiri, bagaimana seoarang pejabat publik yang salah (menurut saya) dalam menggunakan ringtone. Orang seukuran pejabat politik (anggota DPR) tidak sepantasnya memasang ringtone dengan lagu-lagu yang terkesan ABG, seperti lagu Mata, yang kurang lebih sairnya. Oooo, kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan dirinya, teman baikku..oo…Gila, ini menurut saya gila dan lucu. Maaf, di sini saya tidak mengatakan lagu tersebut jelek, hanya saja ringtone tersebut tidak di tempatkan sebagaimana mestinya.

Mungkin untuk sebagian orang, apasalahnya pejabat publik tersebut memasang ringtone itu, namun untuk saya, itu sangat aneh dan tidak pas. Yang ada di benak pikiran saya, paling tidak mereka (anggota DPR) adalah orang yang menjadi panutan. Orang yang punya pikiran yang cemerlang dan visi yang jelas, karena mereka adalah wakil rakyat (katanya). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana dengan sikap dan jiwanya (secara psikologi), kalau ringtone-nya saja bernada seperti itu. Akan berbeda kalau misalnya nada tunggu tersebut berisi lagu Bimbo, misal….bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar. Atau lagunya Opick….obat hati, itu ada lima perkaranya. Yang pertama baca Qur’an dan maknanya……dan seterusnya. Untuk lagu yang terakhir ini bagaimana?, enak bukan untuk didengarkan. Selain enak, di saat kita mendengar lagu tersebut paling tidak hati kita sedikit tergugah dan selalu untuk diingatkan akan hal-hal yang baik.

Sebenarnya, memasang lagu apapun untuk nada tungu itu terserah yang punya HaPe. Namun perlu di sadari, bahwa ringtone yang kita gunakan akan selalu di dengar oleh orang yang akan menghubungi kita, jadi bukan hanya di dengar oleh kita sendiri. Tidaklah mengapa jika yang mendengarkan nada tunggu tersebut adalah orang yang tidak kritis atau masa bodoh. Lalu bagaimana kalau yang mendengarkannya adalah orang-orang yang kritis dan usil. Ah biarlah, saya kok jadi usil begini, bukankah itu urusan yang punya HaPe, gitu saja kok repot.

Selalu semangat, dan terus berjuang.

7 Tanggapan to “Ringtone dan Cerminan Diri”

  1. CakBowo November 5, 2007 pada 1:03 pm #

    Saran saya begini saja.
    Kirim SMS dengan nada sesopan mungkin.
    Isinya begini : “Bapak …. yth. Mohon maaf Pak, RingTone Bapak sepertinya tidak cocok untuk Bapak. Alangkah baiknya jika lagunya diganti dengan lagu Cucak Rowo saja.” 🙂

  2. Ersis Warmansyah Abbas November 7, 2007 pada 10:00 am #

    Ha ha ha … kan ada juga yang iseng mau ngerjain orang. Kalau saya sih tempo-tempo aja tu. Salam pa kabar nih Pak.

    Sebenarnya kalau lagunya enak sih nggak pa2 pak, ini masak lagu pejabat seperti itu. Terima kasih atas kunjungannya pak, dan kabar saya Alhamdulillah baik.

  3. benbego November 12, 2007 pada 4:33 pm #

    Pake ringtone gitu ganggu aja. polusi suara… saya aja ada ringtone dikit pengennya buru2 diangkat ato dimatiin! ngga semua orang suka, termasuk saya!:mrgreen:

  4. petroek™ November 16, 2007 pada 8:49 am #

    sesuai dengan judulnya mas, mungkin mereka nga mau di bilang ketinggalan jaman, sampai2 ringtone pun harus sesuai dengan apa yg disukai saat ini tanpa melihat keadaan diri sendiri.

  5. mrtajib November 16, 2007 pada 1:03 pm #

    temen saya bikin rington untuk bunyi SMS begini:

    “Kang..ana SMS, dibuka kang……..Ana SMS, dibuka kang. ……Kang dibuka, ana SMS kue….ayo dibuka…… Kang ana SMS, kuwe mbok wong nagih utang…..Isin ya, orang mbuka SMS kan aring wong nahih utang?”

    terjemahan:
    “Kang..ada SMS, dibuka kang……..Ada SMS, dibuka kang. ……Kang dibuka, ada SMS itu….ayo dibuka…… Kang ana SMS, kalau-kalau orang menagih hutang …..Malu ya, tidak membuka SMS dai orang yang menagih hutang?”

    *SMSm itu bunyinya awal perlahan, lalu brtamnbah lama mengeras..dan sekeras-kerasnya di bagian akhir…”*

    Naa kaya gini katanya bisa dibikin sendiri. Mbok yao ms prayogo bikin ringtone yang seperti ini –atau dirubah kalimatnya– dan ditawarkan kepada para pejabat…kayaknya akan ditolah….he he he

  6. crushdew November 23, 2007 pada 9:02 am #

    Walah2 ternyata si bapak2 pejabat, girang juga pake fasilitas di Hape, sempet ternyata.

    Semangat, Pak!

  7. Gum Desember 28, 2007 pada 4:20 pm #

    ngomong2, ringtone (nada dering) dan ring back tone (nada tunggu) itu beda lho, pak.

    salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: