Dalam Sebuah Perjalanan

26 Nov

Akhir bulan Oktober kemarin saya melakukan perjalanan ke Batang, Pekalongan Jawa Tengah. Berangkat dari terminal Pulogadung kurang lebih pukul 09.00 WIB. Saat itu memang masih dalam suasana lebaran, namun tarif yang berlaku tarif normal. Kalau pada saat lebaran tarif Jakarta-Pekalongan AC sebesar Rp. 90.000,-, tapi kemarin pada saat saya berangkat hanya Rp. 45.000,-. Harga yang masih bisa terjangkau oleh penumpang yang berkantong tipis seperti saya. Tidak seperti tarif bis ke Belitang Oku Timur, tanah kelahiranku. Pada saat hari biasa saja sudah mencapai Rp. 90.000,- apalagi pada saat lebaran, bisa naik 100%-nya atau bahkan lebih.

Dibutuhkan waktu kurang lebih 6-7 jam untuk bisa sampai ke Terminal Bus Kota Pekalongan. Dari terminal, perjalan saya teruskan kembali dengan menaiki bus jurusan Pekalongan – Semarang. Ongkos yang harus saya keluarkan Rp. 6.000,-, tapi saya tidak sampai ke Semarang, saya hanya berhenti di daerah Batang. Jadi total hanya di butuhkan uang kurang lebih Rp. 50,000,- untuk sampai di daerah Batang (Pekalongan). Tulisan ini sebenarnya hanya ingin sedikit bercerita tentang perjalanan saya kemarin. Di mana cerita atau kejadian ini tidak saya alami pada saat saya pulang kampung ke Belitang, Sumatera Selatan.

Bus Dwi Sri yang saya naiki pada saat itu memang tidak penuh. Sehingga kalau di jalan ada calon penumpang yang akan naik, pasti di angkut. Ini yang terkadang membuat saya kesel, karena dengan sebentar-sebantar berhenti, itu artinya akan memperlambat perjalanan. Tetapi biarlah, toh yang lebih penting bagi saya adalah sampai di tujuan dengan selamat. Memasuki daerah Sumedang, naiklah dua orang laki-laki. Yang sata kira-kira berumur 30-an tahun dengan kulit sawo matang dan berbadan agak kurus, kemudian yang satu lagi kira-kira berumur 40-an, dan berbadan agak gemuk dengan kulit sedikit kuning. Di saat mereka menaiki bis, saya pikir mereka penumpang biasa, seperti saya dan penumpang yang lainnya. Laki-laki yang berumur 30an tersebut membawa semacam karung kecil, yang saya pikir mungkin oleh-oleh si laki-laki tersebut untuk keluarganya di rumah.

Kurang lebih 200 meter bis berjalan setelah dua laki-laki tersebut naik. Satu dari dua penumpang tadi membuka pembicaraan dengan logat yang saya tahu pasti logat orang Sunda atau Sumedang. Assalamualaikum wr.wb, demikian dia membuka pembicaraan di dalam keheningan perjalanan itu. Sebelumnya saya mohon maaf karena telah menggangu perjalanan saudara-saudara semuanya. Dan karena masih dalam suasana lebaran, tak lupa saya ucapakan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin, lanjut si laki-laki tersebut. Di sini saya ingin menawarkan oleh-oleh khas dari Garut, yakni Dodol. Mungkin bapak-bapak, ibu—ibu, mas-mas atau mba-mba, belum bawa oleh-oleh, tidak ada salahnya kalau saudara-saudaranya di rumah di kasih oleh-oleh Dodol Garut yang kami bawa ini.

Demikian si pedagang memberikan salam pembuka untuk memulai menjual dagangannya. Harga satu bungkus dodol garut ini, kalau di toko-toko, bapak-bapak, ibu-bu akan mendapatkan dengan harga 6-7 ribu per bungkus. Namun karena saat ini masih dalam suasana lebaran, maka 4 bungkus dodol Garut ini akan saya jual dengan 20 ribu perak saja. Demikian penjual tersebut membuka harga. Langsung saja, orang yang duduk di barisan depan membeli, karena di anggap harga tersebut sangat murah. Kemudian penjual tersebut mulai berjalan ke kursi bagian belakang bus. Dari kursi ke kursi yang dia hinggapi, anehnya harga yang di tawarkan selalu berubah-ubah. Saat penjual sampai ke kursi yang saya duduki, saya cukup membayar 20 ribu, tetapi saya bisa mendapatkan 8 bungkus dodol Garut. Gila, harga yang berbeda dengan ibu-ibu yang duduk di depan, yang pertama kali membayar, 4 bungkus dengan harga 20 ribu. Tetapi karena memang saya berniat untuk tidak membeli, maka berapapun yang penjual itu tawarkan kepada saya, saya tetap tidak akan membeli. Dan kalau saya perhatikan memang seperti itu, di setiap kursi yang dia (penjual) singgahi selalu dengan harga yang berbeda-beda. Oleh sebab itu jangan heran  kalau antara satu kursi dengan kursi yang lain akan mendapatkan dodol dengan jumlah yang berbeda namun dengan harga yang sama, yakni dua puluh ribu rupiah.

Tak terasa, bus yang saya tumpangi sudah jauh berjalan menyusuri jalanan Pantura yang ramai karena masih dalam suasana lebaran. Dan tidak terasa pula barang daganggan si penjual dodol tersebut sudah habis, tinggallah karung kecil lusuh yang tadi dia pakai untuk membawa dodol. Tidak lama setelah itu, ke dua penjual tersebut turun dari bus yang saya tumpangi. Di dalam hati saya berpikir, berapa keuntungan yang dia dapatkan?, apakah dia tidak merugi dengan cara berdagang seperti itu. Memang, saya tidak tahu persis, berapa harga dodol tersebut sebenarnya. Karena seperti yang sudah saya tuliskan di atas, antara pembeli satu dengan pembeli yang lain pasti akan mendapatkan jumlah dodol yang berbeda, namun dengan harga yang sama.

Bus Dwi Sri AC jurusan Jakarta-Pekalongan yang saya tumpangi terus berjalan. Dan suasana di dalam bus kembali sepi. Masing-masing penumpang asik kembali dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang kembali tertidur, ada yang kembali bersandau gurau dengan teman duduk di sebelahnya. Dan ada pula yang gelisah, semakin tidak sabar untuk segera sampai ke tujuan. Bertemu dengan kekasih hati, ah… Nona, sedang apa kamu di sana, aku ingin segera melihatmu. Karena sudah dua minggu saya tidak melihat ayunya paras wajahmu. Kangenkah kamu padaku?   

Selalu semangat, dan terus berjuang.

7 Tanggapan to “Dalam Sebuah Perjalanan”

  1. sinta November 28, 2007 pada 4:33 pm #

    Itulah suka dan dukunya kalau melakukan perjalanan, pasti ada cerita2 yang menarik seperti tulisn ini.

  2. Ersis WA Desember 1, 2007 pada 4:22 pm #

    Ikut sekali-kali jalan-jaln dong … bikin ngiler aja

  3. wong Pematang Desember 8, 2007 pada 6:05 pm #

    ceritain dong jalan-jalannya dibelitang…………… gimana mahalnya naik ojeg dibelitang

  4. Syaharuddin Januari 3, 2008 pada 11:07 am #

    kata orang semakin jauh kita melangkah semakin banyak yang kita lalui, semakin banyak pula yang kita rasakan. Itu pengalaman. Pengalaman kan guru yang terbaikkata orang bijak. Jadi, perjalanan sampeyan adalah sebuah pengalaman yang mengesankan….!?

  5. sugeng Januari 5, 2008 pada 4:52 pm #

    Assalamu’alaikum
    Aku tahu Mas Yoga ke Pekalongan mau ngapain ?
    Mau kawin kan ? ha..ha..ha..ha..ha..
    Makanya pengennya buru-buru aja…………
    Yang sabar aja Mas Yoga…….

  6. doeytea Januari 9, 2008 pada 1:07 pm #

    Kalau saya, cerita ini merupakan ritual mingguan. Bolak-balik Jakarta Pekalongan. BTW, kapan nih hari H nya?

  7. Ersis W. Abbas Januari 15, 2008 pada 7:38 pm #

    Lama ngak diapdet ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: