Ngudi Tentreming Ati

17 Mar

Hembusan angin yang sejuk, suasana yang tentram dan damai. Pasti menjadi dambaan setiap orang yang hidup di kota-kota besar. Apalagi hidup di suasana dan hiruk pikuknya Ibu Kota Jakarta, pasti suasana seperti itu sangat di dambakan. Tidaklah mengherankan kalau datang libur panjang, warga kota yang mempunyai uang cukup, pasti melakukan perjalanan luar kota atau rekreasi. Tujuannya hanya satu mencari suasan baru dan ketenteraman hati. Bicara tentang ketenteraman hati, dan seperti tagline dari blog ini, ngudi tentreming ati (mencari ketentraman hati). Memanglah sangat layak untuk dicari. Untuk apa punya mobil lebih dari satu, rumah mewah di mana-mana akan tetapi kalau hatinya tidak tentram pasti tidaklah nyaman. Cobalah tanya kepada orang kaya, yang hatinya selalu diselumuti gundah, selalu resah, apakah hidupnya tenang? Pasti jawabannya Tidak. Namun jangan coba pertanyaan itu dilemparkan kepada saya. Karena saya belum merasakan itu (kaya), he he he.

Bicara soal rekreasi atau keluar kota, saya memang tidak terlalu sering melakukannya. Hanya saja saya memang sempat singgah ke beberapa kota antara lain: Yogyakarta, Solo, Palembang dan lain-lain. Tetapi selalu saja, setiap kali pulang dari tempat yang saya kunjungi kata-kata klasik selalu singgah. Alangkah enaknya tinggal di daerah ini. Apakah anda juga merasakan hal yang sama? Terakhir saya singgah di kota Solo, dua sampai tiga hari di kota itu. Melihat suasana kota yang tidak terlalu ramai seperti Jakarta, udara yang tidak terlalu panas, orang-orangnya yang ramah. Ingin sekali rasanya bekerja dan tinggal di kota ini. Asa seperti itu selalu muncul di benak saya, di setiap saya datang ke daerah. Bahkan di kampung asal isteri saya, di daerah Penundan- Batang, Pekalongan. Keinginan itupun selalu terbersit. Padahal kalau mau jujur, daerah Penundan tidaklah seramai di daerah saya (Belitang). Mungkinkah saya bisa tinggal dan bekerja di daerah? Pertanyaan itu menjadi PR untuk saya.

Saya termasuk karyawan yang tipe pekerja P-9 (Pergi Pagi Pagi, Pulang Petang Petang, Pendapatan Pas Pasan). Bisa bayangkan sendiri, tinggal di Kalimalang – Pondok Kelapa dan tempat kerja di daerah Gatot Subroto. Setiap hari saya harus bertarung dengan kemacetan. Kemacetan di Jakarta kalau di rasakan semakin hari semakin macet saja, rasanya tidak pernah berkurang. Gubernur baru atau lama, pemimpin yang baru atau yang lama, rasanya sama saja, tetap macet. Pendapat saya, kota Jakarta tidak akan pernah bebas dari yang namanya macet. Berkaitan dengan kemacetan tersebut dan hal-hal yang lain, tidaklah salah kalau saya punya keinginan untuk bekerja dan tinggal di daerah dengan suasana dan aroma yang pastinya berbeda dengan Ibu Kota, Jakarta.

Keinginan ini sempat saya sampaikan kepada pendamping hidupku. Dan dengan semangat dia mengatakan Ayo!!, dengan senang hati tinggal di kampung/daerah. Mudah-mudahan keinginan ini suatu saat nanti akan terlaksana. Tinggal di kampung, suasana yang damai, udara yang sejuk, penduduk yang ramah. Dan jika memang kelak ini terjadi, saya harus mengatakan Selamat Tinggal Jakarta.

Tetap semangat, dan terus berjuang.

9 Tanggapan to “Ngudi Tentreming Ati”

  1. markotop Maret 22, 2008 pada 12:20 pm #

    Tetap semangat, dan terus berjuang … biar jadi kaya trus aku bisa nanya: apakah hidupmu tenang?

  2. prayogo Maret 24, 2008 pada 9:10 am #

    Memang agak susah untuk mengatakan, apakah kalau sudah kaya terus hidup kita menjadi tenang. Saya pikir tidak juga. Mungkin, intinya adalah di dalam hati kita. Yah seperti yang saya tulis Ngudi Tentreming Ati, Mencari Ketentraman Hati. Biar kaya, biar miskin, kalau hati tidak tenang, ya tidak enak.

    Demikian.

    • dannys Desember 10, 2009 pada 1:51 pm #

      menurut saya hidup mesti kena berani dengan semuacabaran selagi kita di pihak benar

  3. kangguru Maret 24, 2008 pada 1:39 pm #

    wah welkam bek mas, saya juga udah jarang online nih, salam

  4. juliach Maret 25, 2008 pada 1:58 am #

    Sebelum meninggalkan Indonesia th. 1997, aku sering ke laut Bekasi (kalo ngak salah pantai Babelan). Itu lho lewatnya Patung Lele, nyebrang rel kereta dan ke utara terus, sampai ke tambak-tambak yg kering.

    Di ujung sana ada perumahan kecil nelayan (5 rmh maxi). Aku menyewa perahu dgn Rp. 40 000/24 jam sdh termasuk nasi + perlengkapan. Start dari situ jam 8 malam dan balik ke situ jam 12 siang keesokan harinya.

    Wow rasanya tak pernah terlupakan. Hasilnya 6 kotak ikan, kami (1 temanku dan aku) hanya membawa 2 kotak ikan. Lainnya untuk si pemilik perahu.)

  5. akmal hasan Mei 30, 2008 pada 11:01 am #

    Ehm.. rupanya mas lagi kangen ama suasana kampung ya?
    Barangkali ini memang fenomena umum mas, lihat betapa hiruk pikuknya suasana mudik setiap tahun.

    Atau mungkin juga ini memang panggilan jiwa yang selalu mencari dan mencari ketentraman dan kedamaian yang diekspresikan lewat seremoni pulang kampung atau perasaan merindu suasana kampung.

    Salam kenal.

  6. LESMAN ARIANTO September 19, 2014 pada 12:17 am #

    If opportunity does not come to you then create it Success is an achievement that comes after the failures

  7. ELYA ANGGRAINI Februari 10, 2015 pada 8:02 am #

    Jangan pernah menyerah perbaiki kesalahan dan teruslah melangkah.

  8. ARIATI SONDANG ALINA DONGORAN November 13, 2015 pada 10:29 am #

    Jadi dirimu sendiri agar ketika seseorang mencintai kamu tak perlu takut jika dia akan temukan dirimu bukan orang yang ingin dia cintai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: