Masyarakat Kita Yang Santun, Mana?

30 Mei

Dulu waktu duduk di bangku sekolah dasar, baik Ibu Guru atau Bapak Guru selalu mengatakan bahwa masyarakat kita ini dikenal dengan sopan, santun dan keramahtamahannya. Karena kita orang Timur, jadi kita dikenal dengan budayanya yang santun, begitu guru pernah berucab. Ibu guru melanjutkan, orang timur itu lebih mempunyai moral daripada orang barat. Benarkah ini? terus terang saya agak meragukan pernyataan tersebut. Mungkin dulu, waktu kecil percaya saja, karena kita tidak mencari tahu lebih lanjut mengenai itu. Tetapi sekarang, setelah besar dan setelah kita tahu banyak hal, mungkin apa yang dulu pernah di katakan oleh guru, itu tidak benar adanya.

Menurut saya budaya sopan, santun yang kita miliki sudah hampir hilang, atau mungkin sudah hilang dari diri kita. Apalagi buat kita yang tinggal di Jakarta. Masing-masing orang berjalan dengan sendiri-sendiri, lo-lo, gua-gua, begitu penduduk asli Jakarta berucap. Tetangga tidak kenal dengan tetangga sampingnya, itu sudah biasa. Orang kecopetan, dan tidak ada yang menolong, itu biasa. Orang kesusahaan, orang kelaparan, tidak ada yang menolong, itu juga sudah biasa. Lalu di mana budaya sopan, santun, dan keramahtamahan yang katanya di miliki orang masyarakat kita. Kalau saja banyak orang yang peduli, maka tidak ada yang namanya kelaparan, tidak ada yang namanya bayi busung lapar karena kurang gizi, tidak ada yang namanya pengemis, dan lain sebagainya. Tetapi sayang, inilah masyarakat kita yang sudah tidak peduli dengan sekitarnya. Sepertinya memang benar apa kata penduduk asli kota ini, kamu ya kamu, saya ya saya.

Budaya tidak santun memang sudah merambah ke segala lini, itu yang saya lihat. Bahkan sampai ke hal-hal yang terkecil. Kebetulan saya berangkat dan pulang kerja selalu mengendarai sepeda motor. Di setiap kendaraan motor banyak sekali (walau tidak semua) di tempelin dengan atribut atau stiker yang mereka miliki. Misal mereka ikut sebuah komunitas, maka di jaket atau di motornya di tempelin bikers community bla-bla-bla. Itu mereka pasang, untuk menunjukan bahwa ini lho saya, bagian dari komunitas ini atau komunitas yang itu. Kemudian ada juga yang senang dengan membawa unsur-unsur kedaerahan, maka di tempelinlah di motornya dengan tulisan cah solo, cah ngawi, dan banyak lagi. Kalau masih seperti ini, saya pikir tidak ada masalah, dan sah-sah saja. Karena tidak ada unsur menghina suatu kelompok tertentu.

Tetapi belakangan saya menemukan, saling ejek atau saling menghina di antara para bikers mulai bermunculan. Kemuculan ini di awali dengan semakin banyak motor-motor matic di jalanan, seperti Mio, Spin, dan lainnya. Di jalanan, sering saya menjumpai tulisan yang menghina kelompok lain. Misal, kalau yang memakai motor matic, maka di motornya di tempelin stiker dengan tulisan Hari Gini Oper Gigi, Capek deh, kemudian Hari Gini Oper Gigi, Kelaut Aja, dan seterusnya. Dan yang pakai motor manual (pakai gigi) juga tidak mau kalah, mereka tidak mau diam begitu saja. Maka di motornya ditempelin stiker, Hari Gini, Nggak Pakai Gigi, Ompong Dong, Hari Gini Nggak Pakai Gigi, Kayak Kakek Gua. Bahkan saya menjumpai ada yang sepertinya niat sekali untuk menghina orang yang pakai motor matic, di motornya di tulis pakai tip x atau cet kalau tidak salah, dengan tulisan Fuck 4 Matic. Ah, saya sering sekali kalau baca-baca tulisan seperti ini mengelus dada. Kenapa kita harus saling mengina satu sama lain. Tidak bisakah kita saling mengormati dan saling menghargai apa-apa yang orang lain punya. Bukankah tulisan-tulisan seperti itu menambah dan semakin memupuk rasa benci di antara kita (masyarakat). Kenapa di motor kita tidak di pasang tulisan-tulisan yang memang ada manfaatnya. Misal, Jaga Jarak Anda; Jangan Ngebut, Ingat Keluarga Dirumah; Hanya Titipan Ilahhi; Bismilahirohmanirohim, dan tulisan-tulisan yang berguna lainnya.

Mungkin inilah budaya dari masyarakat kita yang sebenarnya. Masyarakat yang suka dengan kekerasan, masyarakat yang suka dengan konflik. Jadi apa yang pernah di katakan oleh Ibu dan Bapak Guru saya waktu di bangku SD, itu tidak benar adanya. Yang katanya masyarakat kita itu sopan, santun, dan saling menghargai. Mohon maaf Bapak dan Ibu Guru, sepertinya apa yang pernah Anda katakan, saat ini sudah beda/berubah.

Tetap Semangat, Dan Terus Berjuang.

3 Tanggapan to “Masyarakat Kita Yang Santun, Mana?”

  1. Yaqzhanah Mei 30, 2008 pada 10:41 am #

    Ya selama tidak bermaksud menyerang kelompok atau golongan lain sich sah-sah aja mungkin dia bercanda. Tapi memang kalo dah tulisannya Fu#% 4matic itu dah keterlaluan…

  2. Dino Juni 19, 2008 pada 7:33 pm #

    makin hari jaman emank makin edan, kalo jamannya nenek-kakek kita, saya masih percaya bahwa bangsa kita adalah bangsa yg sopan, sebab dari tingkah dan tutur kata beliau² pun masih santun, tp kalo saat ini, keknya memang betul kata anda semua sudah berubah, saya sempat terpana waktu jalan² ke Bandung kemarin, anak SMA berseragam (perempuan) bisa dengan seenak udel`e dewe ngerokok dipinggiran jalan dan banyak hal² lain yg bikin saya geleng² kepala…. ya norma dan sopan santun itu memang sudah hilang…

  3. kangoyot Oktober 18, 2010 pada 11:04 am #

    kesantunan itu seolah-olah sudah hampir padam di negeri yang justru terkenal kesantunannya (dulu😦 ..) tetapi menjadi tanggung jawab kita yang menyadarinya.. lalu mencoba merubah dari diri sendiri, keluarga lalu lingkungan sekitar menjadi lingkungan yang santun… semoga dimampukan Nya….
    salam kenal … sudilah kiranya mampir ke gubuk saya mas… http://sinauwebsite.com matur thank you ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: