Sawang Sinawang

5 Mar

Mungkin anda pernah membayangkan, bagaimana rasanya kalau jadi Aburizal Bakrie (Ical) dengan total kekayaan 5,4 miliar dolar, sekitar Rp. 50 triliun (Forbes, 2007). Dalam majalah Forbes tersebut menempatkan Aburizal Bakrie sebagai orang nomor satu terkaya di Indonesia. Gila memang. Bisnis keluarga Ical memang begitu menggurita, mulai dari usaha pertambangan, telekomunikasi, media massa, hingga pembangunan infrastruktur. Terbaru, keluarga Ical memenangkan tender pembangunan jalan tol lingkar luar Jakarta dan Trans-Jawa. Dan tidak menutup kemungkinan, masih banyak tender-tender yang dimenangkan oleh Aburizal Bakrie yang tidak terekspose oleh media.

Naun jauh di pelosok desa, sebut saja namanya Tukijan, hidup dalam suasana yang serba kekurangan. Jangankan punya televisi atau radio, untuk makan sehari-hari saja dia tidak bisa memenuhinya. Program BLT (Bantuan Langsung Tunai), dari pemerintah membuat beberapa kriteria untuk orang miskin. Antara lain orang tersebut hanya makan satu sampai dua kali sehari, tidak mampu bayar pengobatan di Puskesmas, atau untuk berobat, penghasilan kurang dari Rp.600.000 / bulan, tidak memiliki simpanan lebih dari 500.000. Agak menarik buat saya adalah point terakhir, tidak memiliki simpanan lebih dari lima ratus ribu rupiah. Kalau memang begitu, maka berapa banyak orang miskin di kota dan di desa. Saya tidak mempunyai data persis soal ini, tetapi secara kasat mata, orang-orang seperti Tukijan, yang mempunyai penghasilan kurang dari Rp. 600.000/bulan, yang tidak mempunyai simpanan lebih dari 500 ribu, pasti sangat banyak sekali.

Lantas apakah Aburizal Bakrie bahagia dengan segala kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki saat ini. Dan bagaimana dengan Tukijan, bahagiakah dia, walau hidup serba kekurangan? Susah untuk menjawabnya. Karena belum tentu Ical bahagia dengan apa yang dia miliki saat ini. Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan berapa banyak dia punya rumah, mobil, perhiasan, tabungan dan lain-lain. Kebahagiaan itu juga tidak bisa diukur dengan ketidakpunyaan. Siapa tahu Tukijan jauh lebih bahagia daripada Aburizal Bakrie. Kenapa, karena mungkin Tukijan bisa tidur lebih nyenyak dibandingkan Ical. Karena biasanya orang yang kaya itu tidurnya kurang nyenyak, karena banyak sekali yang dipikirkannya, antara lain bagaimana mengamankan harta yang sudah dimiliki, bagaimana memperbanyak kekayaan, bagaimana memenangkan tender ini, tender itu, dan lain sebagainya.

Sawang sinawang
Pepatah jawa ini memang tepat untuk mengambarkan bagaimana kita melihat orang. Kita mungkin mempunyai penilaian bahwa orang kaya itu pasti hidupnya bahagia, belum tentu. Atau malah sebaliknya, orang kaya melihat orang yang miskin (kekurangan) jauh lebih bahagia dalam mengarungi kehidupan ini. Karena dia merasa tidak perlu menjaga harta yang begitu banyak. Bersukur dengan apa yang saat ini kita punya menurut saya akan membuat bahagia itu ada pada kehidupan kita. Dan semuanya memang kembali kepada diri kita sendiri. Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagiaan itu adanya di dalam hati. Hanya Tuhan dan kita sendiri yang tahu.

17 Tanggapan to “Sawang Sinawang”

  1. juliach April 15, 2009 pada 5:24 pm #

    Kalo kita bisa mensyukuri semuanya, pasti kita ngak nyawang orang lain.

  2. budisan68 April 25, 2009 pada 9:26 pm #

    alhamdulillah saya masih bisa ngenet

  3. Deni Triwardana Mei 11, 2009 pada 5:34 pm #

    “Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagiaan itu adanya di dalam hati. Hanya Tuhan dan kita sendiri yang tahu”, Saya setuju itu..

  4. Kertaningtyas Mei 14, 2009 pada 8:12 am #

    Nggih mas, saya pun berupaya untuk berpedoman demikian, materi banyak ataupun sedikit sama- sama titipan Allah.
    Salam Kenal mas, saya juga orang Belitang. Blog Njenengan bagus, sugeng Rawuh di site saya πŸ™‚
    Njenengan masih tinggal di Belitang?

  5. prayogo Mei 14, 2009 pada 10:20 am #

    Kertaningtyas:

    Salam kenal kembali. Saya jug aorang belitang, tetapi saat ini saya lagi merantau di Jakarta. Sampean di mana?

  6. Kertaningtyas Mei 14, 2009 pada 3:56 pm #

    Saya di Sukaraja BK 0, domisili saat ini di Palembang.πŸ™‚

  7. Tarjoni Mei 15, 2009 pada 12:31 am #

    Intinya memang harus bersyukur “jangan lihat ke atas tapi lihat ke bawah”

  8. Heryan Tony Mei 29, 2009 pada 2:39 pm #

    Benar, mas.

  9. fitra jaya u Juni 11, 2009 pada 8:29 am #

    Jangan sering-sering melihat keatas nanti malah kejeblos lho, lihat aja yang ada didepan kita………..kayaknya lebih tentreming ati.

  10. Andy-Archving-RIDEP Juli 4, 2009 pada 11:45 am #

    Ga sengaja nemu blog ini…ternyata punya Yoga…kalau ngebaca komen ini ga, liat blog saya di http://myandy.multiply.com atau face book (bariza ghiffari adfan)..ditunggu ga…

  11. shopiatun Maret 28, 2011 pada 8:57 pm #

    bener mas yogo di trimak_trimakke wae opo peparinge sing kuoso iki rasah nggagas sing neko_neko ndak marakke raiso turu sing penting jik iso ngeliwet lak yo bener ngono tho……….?betul_betul…………..

  12. obat kutil kelamin herbal Oktober 20, 2013 pada 9:18 pm #

    nice post gan,,,,,

  13. obat wasir Desember 14, 2013 pada 10:18 am #

    infonya menarik dan sangat bermanfaat sekali gan

  14. Obat Sipilis tradisional Januari 11, 2014 pada 12:36 pm #

    This is very interesting and nice to read, I like the interesting article … good luck salam sukses..Mampir Ya Gan

  15. EKI SAPUTRA Februari 10, 2015 pada 10:23 pm #

    Lakukanlah hal baik sekarang juga

  16. yanasuryana7 November 13, 2015 pada 10:33 am #

    Sahabat adalah seseorang yg slalu ada disampingmu yg sabar mendengarkan keluh kesahmu dan bersedia menemanimu menjalani hidup

  17. Kutil Kelamin Mei 27, 2016 pada 5:05 am #

    Makasi infonya gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: